Kamis, 03 Juni 2021

kumpulan karomah Kyai Amin

 kumpulan karomah Kyai Amin


Kiai Amin Sepuh


, lahir pada hari Jum’at, tanggal 24 Dzulhijjah 1300 H, bertepatan dengan tahun 1879 M, di Mijahan Plumbon, Cirebon, Jawa Barat. Beliau adalah termasuk ahlul bait, dari silsilah Syech Syarif Hidayatullah.


KH Amin Sepuh

Kiai Amin adalah sosok santri kelana tulen. Kiai Amin semasa kecil belajar ilmu agama kepada ayahnya, yaitu Kiai Irsyad (wafat di Makkah). Kemudian, setelah dirasa cukup menguasai dasar-dasar ilmu agama dan ilmu kanuragan dari sang ayah, beliau dipindahkan ke pesantren Sukasari, Plered, Cirebon di bawah asuhan Kiai Nasuha. Setelah itu beliau pindah ke sebuah pesantren di daerah Jatisari di bawah bimbingan Kiai Hasan.Dan beliau pun terus berkelana ke berbagai tempat untuk menuntut ilmu dari para ulama yang mumpuni.


Beliau juga sempat belajar di Pesantren Kaliwungu Kendal (kakak angkatan KH. Ru’yat), setelah itu ke pesantren Mangkang Semarang. Setelah itu beliau pindah ke sebuah pesantren di daerah Tegal, di bawah asuhan Kiai Ubaidah.Kemudian beliau pindah ke Pesantren Bangkalan Madura, tepatnya beliau belajar kepada Syaikh KH.Cholil.Ketika berada di Bangkalan beliau di bawah bimbingan Kiai Hasyim Asy’ari, yang mana pada waktu itu KH.Hasyim Asy’ari masih tahassus kepada KH.Kholil Bangkalan Madura. Kemudian setelah kepulangan KH.Hasyim Asy’ari ke Pesantren Tebu Ireng Jombang, KH.Amin Sepuh pun bertahassus kepada beliau.


Belum kenyang belajar di Pesantren Tebu Ireng, beliau bertolak ke tanah Arab untuk memperdalam ilmu.Salah satu guru beliau di Makkah adalah Kiai Mahfudz Termas, seorang ulama ternama di Makkah asal Pacitan Jawa Timur.Sebagai seorang santri yang sudah cukup matang, beliau pun mendapat tugas untuk mengajar para santri mukim, yaitu prlajar Indonesia yang tinggal di Makkah.


Kepengasuhan Pondok Pesantren Raudlotut Tholibin, Babakan Ciwaringin


Berdasar amanah dari sang ayah, yaitu Kiai Irsyad (cucu Ki Jatira, pendiri Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon), Kiai Amin diamanatkan untuk menimba ilmu kepada Kiai Ismail bin Nawawi di Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon.


Ketika mesantren di Babakan Ciwaringin, beliau dikenal dengan sebutan Santri Pinter, karena beliau pandai mengaji.Setelah beliau menyelasaikan tahassus, kemudian beliau dinikahkan dengan keponakan Kiai Ismail.


Sehingga sepeninggal Kiai Ismail, pada tahun 1916, pengasuh Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin (Cikal bakal Pondok Pesantren Raudlotut Tholibin) diteruskan oleh muridnya, yaitu Kiai Muhammad Amin bin Irsyad, yang lebih dikenal dengan dengan Kiai Amin Sepuh. Gelar itu disematkan kepada beliau, dikarenakan keilmuan dan asal muasal beliau yang sama dengan pendiri Pesantren Babakan, yaitu Kiai Jatira dari Mijahan.


Baca Juga : Pondok Pesantren Islam Al Mukmin Ngruki


Dengan bermodal ilmu pengetahuan yang telah ia peroleh, serta upaya untuk mengikuti perkembangan Islam yang terjadi di Timur Tengah, Kiai Amin Sepuh memegang tampuk pimpinan Pesantren Babakan Ciwaringin, peninggalan nenek moyangnya dengan penuh kesungguhan.


Kiai muda yang masih energik ini, selain mengajar berbagai khazanah kitab kuning, beliau juga memperkaya pengetahuan para santrinya dengan ilmu keislaman modern, tentu dengan tetap mempriotrotaskan kajian ilmu ubudiyah dalam kehidupan sehari-hari.


Perkembangan Pondok Pesantren Raudlotut Tholibin


Pada masa penjajahan, para santri kelana inilah yang menjadi mediator antar pesantren untuk melawan penjajah.Sementara pesantren di manapun berada, pesantren selalu menjadi basis perlawanan yang menakutkan bagi penjajah. Para santri kelana ini menyebarkan informasi dari satu tempat ke tempat yang lain, dan tak jarang pula mereka yang menjadi garda depan dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah.


Paska revolusi kemerdekaan, beliau terus mengembangkan Pesantren dengan berbagai aral melintang.Bahkan situasi dahsyat yang pernah dialami adalah ketika Agresi Militer Belanda ke dua, tepatnya pada tahun 1952, Pondok Pesantren Babakan diserang Belanda. Dikarenakan KH. Amin Sepuh sebagai sesepuh Cirebon, merupakan pejuang yang menantang penjajah.Pada saat itu pondok dikepung dan dibakar.Sehingga membuat para santri pulang, sedang para pengasuh beserta keluarga mengungsi.


Baru dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1954, Kiai Sanusi, salah satu murid KH. Amin Sepuh, merupakan orang yang pertama kali kembali dari pengungsiannya. Sisa-sisa kitab suci berantakan, dan banyak kiatab karya KH.Amin Sepuh yang habis terbakar.Bangunan telah hancur, tnggal puing-puing, dan menjadi tampak angker.Namun secara bertahap lingkungan pondok mulai dibersihkan.


Kemudian pada tahun 1955,setelah situasi sudah mulai kondusif, KH.Amin Sepuh akhirnya kembali ke Babakan, kemudian diikuti oleh para santri berdatangan dari berbagai pelosok.Semakin hari, santri terus bertambah banyak, dan Pondok Raudhotut Tholibin pun akhirnya tidak dapat menampung para santri, sehingga para santri dititipkan di rumah para ustadz, seperti halnya KH. Hanan dan KH.Sanusi.


Pada perkembangannya, anak cucu beliau turut mendirikan dan mengembangkan Pondok Pesantren.Sehingga Pondok yang awalnya hanya satu, yaitu Pondok Pesantren Raudlotut Tholibin, sekarang telah menjadi banyak.Dan tercacat pada tahun 2012, telah terdapat sekitar 40 Pondok di lingkungan Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon.


Kiai Amin dan Peristiwa 10 November 1945


Diceritakan dalam sebuah majelis, bahwasanya almarhum KH. Abdul Mujib Ridlwan, Putra KH. Ridlwan Abdullah Pencipta lambang NU, mengajukan sebuah pertanyaan, “Kenapa perlawanan rakyat Surabaya itu terjadi 10 November 1945, kenapa tidak sehari atau dua hari sebelumnya, padahal pada saat itu tentara dan rakyat sudah siap?”


Melihat tak satupun hadirin yang dapat menjawab, akhirnya pertanyaan itu dijawab sendiri oleh Kiai Mujib, “Jawabannya adalah saat itu belum diizinkan Hadratus Syaikh KH.Hasyim Asy’ari untuk memulai pertempuran, mengapa tidak diizinkan? Ternyata Kiai Hasyim Asy’ari menunggu kekasih Allah dari Cirebon yang akan datang menjaga langit Surabaya, beliau adalah KH. Abbas Abdul Jamil dari Pesantren Buntet Cirebon dan KH.Amin Sepuh dari Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon.”


KH.Amin Sepuh adalah seorang ulama legendaries dari Cirebon.Selain dikenal sebagai ulama, beliau juga pendekar yang menguasai berbagai ilmu bela diri dan kanuragan.Beliau juga seorang pakar kitab kuning sekaligus jagoan perang.


Sehingga saat mendengar Inggris akan mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945 dengan misi mengembalikan Indonesia kepada Belanda, maka KH.Amin menggelar rapat bersama para Kiyai di wilayahnya.Menurut penuturan Kiai Fathoni, pertemuan itu dilakukan di daerah Mijahan, Plumbon, Cirebon.Bersama dengan Kiai Amin, Kiai Fathoni menjadi saksi pertemuan yang melibatkan KH. Abbas Abdul Jamil Pesantren Buntet, KH. Anshory (Plered), dan ulama lain. “Namun, saat itu saya masih kecil”, tutur pria yang dipercaya sebagai penerus pengasuhan Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon tersebut.


Pertemuan itu ditindaklanjuti dengan pengiriman anggota laskar ke Surabaya untuk menghadang 6000 pasukan Brigade 49, Divisi 23 yang dipimpin Brigadir Jenderal AWS Mallaby. Tidak ketinggalan, KH.Amin juga ikut berangkat ke Surabaya serta turut mengusahakan pendanaan untuk biaya keberangkatan.Kyai Fathoni mengatakan bahwa untuk pendanaan, beliau menyerahkan 100 gram emas yang terdiri dari kalung, gelang, dan cincin.


Kepahlawanan KH Amin dalam peristiwa 10 November memang cukup legendaris sampai sekarang.Bahkan saat itu ada stasiun radio yang menyiarkan bahwa KH.Amin adalah seorang yang tidak mempan senjata maupun peluru saat bertempur di Surabaya.Bahkan, dia juga dikabarkan tidak mati, meski dilempari bom sebanyak 8 kali.Siaran inilah yang membuat kepulangan KH.Amin ke Cirebon disambut oleh 3000-an orang untuk meminta ijazah kekebalan darinya.Kondisi ini tentu saja membuatnya marah.Sampai-sampai beliau mengatakan bahwa beliau tidak mati karena bomnya meleset, kenang Fathoni saat ayahnya datang dari Surabaya


Estafet Kepengasuhan


Pada masa pengasuhan KH. Amin Sepuh, Pondok Raudlotut Tholibin, Babakan mencapai kemasyhuran dan masa keemasan serta banyak andil dalam mencetak tokoh-tokoh agama yang handal. Hampir semua Kiai Sepuh di wilayah 3 Cirebon adalah muridnya, dan sebagian juga tersebar di berbagai belahan nusantara.Seperti Kang Ayip Muh (Kota Cirebon), KH. Syakur Yasin, KH. Abdullah Abbas (Buntet), KH. Syukron Makmun, KH. Hannan, KH. Sanusi, KH. Machsuni (Kwitang), KH. Hasanuddin (Makassar). Di Babakan sendiri, murid-murid beliau banyak yang mendirikan pesantren, seperti halnya KH. Muhtar, KH. Syaerozi, KH. Amin Halim, KH. Muhlas dan KH. Syarif Hud Yahya.Dan pada saat ini, ribuan alumni telah tersebar di seluruh penjuru tanah air, dengan bermacam profesi dan jabatan di masyarakat maupun lembaga pemerintahan, baik sipil maupun militer.


Artefak pesantren Babakan Ciwaringin (Raudlotut Tholibin) sendiri masih eksis. Sejak KH. Amin sepuh wafat pada tahun 1972, disusul KH.Sanusi yang wafat pada tahun 1974 M, kepengurusan dilanjutkan oleh KH.Fathoni Amin sampai tahun 1986 M.


Setelah KH. Fathoni wafat, kepengurusan pesantren dilanjutkan oleh KH.Fuad Amin (wafat tahun 1997) beserta KH. Bisri Amin (wafat tahun 2000 M). kemudian diteruskan oleh KH. Abdullah Amin (wafat tahun 2008) beserta KH. Drs. Zuhri Afif Amin (wafat pada tahun 2010 M). Setelah KH. Drs. Zuhri Afif Amin wafat, kepengurusan dilanjutkan oleh cucu-cucu KH. Amin Sepuh, paraulama serta masyarakat yang berkompeten untuk kemajuan pesantren.


Kepulangan KH. Amin Sepuh


KH. Amin Sepuh bepulang ke rahmatullah pada hari Selasa, tanggal 16 Rabi’ul Akhir 1392 H,bertepatan dengan tanggal 20 Mei 1972 M. Bangsa ini kembali kehilangan sosok pahlawan tanpa tanda jasa, yang begiru gigih mempertahankan keutuhan bangsa Isdonesia. Semoga Allah menerima segala amal beliau dan menempatkannya di tempat yang mulia, amin.



Diceritakan disebuah majelis, almarhum KH. Abdul Mujib Ridlwan, Putra KH. Ridlwan Abdullah Pencipta lambang NU, mengajukan sebuah pertanyaan, “Kenapa Perlawanan Rakyat Surabaya itu terjadi 10 November 1945, kenapa tidak sehari atau dua hari sebelumnya padahal pada saat itu tentara dan rakyat sudah siap?”


Melihat tak satupun diantara yang hadir dalam majelis itu dapat menjawab, pertanyaan itu dijawab sendiri oleh Kiai Mujib,


“Jawabannya adalah saat itu belum diizinkan Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari untuk memulai pertempuran, Mengapa tidak diizinkan?


Ternyata hal tersebut lantaran Kiai Hasyim Asy’ari menunggu kekasih Allah dari Cirebon yang akan datang menjaga Langit Surabaya, Beliau Adalah KH. ABBAS ABDUL JAMIL dari pesantren buntet Cirebon dan KH AMIN SEPUH dari Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon.


KH Amin Sepuh adalah seorang ulama legendaris dari Cirebon, selain dikenal sebagai ulama, beliau juga pendekar yang menguasai berbagai ilmu bela diri dan kanuragan, Beliau juga seorang pakar kitab Kuning sekaligus jagoan perang.


Kiyai Amin bin Irsyad, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kiyai Amin Sepuh, lahir pada Hari jum’at 24 Djulhijjah 1300 H, bertepatan dengan tahun 1879 M, di Mijahan Plumbon, Cirebon, Jawa Barat. Beliau adalah AHLUL BAIT, dari silsilah Syech Syarif Hidayatullah. (Baca Siilsilah Bani Amin, KH. Mudakkir)


Kiyai Amin kecil yang belajar kepada ayahnya kiyai Irsyad(wafat di Mekkah) adalah contoh santri kelana tolen, yang berkelana ke berbagai tempat untuk menuntut ilmu dari para ulama yang mumpuni. Setelah dirasa cukup menguasai dasar-dasar ilmu agama dari sang ayah, dan ilmu kanuragan tentunya, beliau dipindahkan kepesantren Sukasari, Plered, Cirebon dibawah asuhan Kiyai Nasuha, setelah itu pindah kesebuah pesantren di daerah Jatisari di bawah bimbingan Kiyai Hasan.


Beliau juga sempat mesantren di Pesantren Kaliwungu Kendal (kakak angkatan KH.Ru’yat), lalu ke Pesantren Mangkang Semarang.


Berikutnya Beliau pindah kesebuah pesantren Jawa Tengah Tepatnya daerah Tegal, yang diasuh oleh Kiyai Ubaidah. Lalu pindah lagi kepesantren yang waktu itu sangat kondang di Jawa Timur, yakni Pesantren Bangkalan Madura, belajar pada Hadratusy Syeh KH. CHOLIL, beliau dibawah asuhan Kiyai Hasyim Asy’ari, pendiri NU (waktu itu KH. Hasyim Asy’ari masih Tahassus/Ustadz pada KH Cholil). Yang kemudian diteruskan di Pesantren Tebuireng Jombang, Beliau takhassus/mengabdi pada KH. Hasyim Asy’ari, karena sama-sama alumni KH. Cholil Bangkalan.


Belum kenyang belajar di Pesantren Tebuireng, Beliau bertolak ke tanah Arab, untuk memperdalam ilmu, dinegeri ini beliau sempat belajar kepada Kiyai Mahfudzh Termas Asal Pacitan, Jawa Timur, Salah seorang ulama nusantara Kesohor di Kota Makkah.


Sebagai santri yang sudah cukup matang, diwaktu senggang beliau banyak ditugasi untuk mengajar para santri Mukim (pelajar Indonesia yang tinggal di Makkah).


Pada Masa penjajahan, para santri Kelana inilah yang menjadi mediator antar pesanteren untuk melawan penjajah. Sementara pesantren dimanapun adanya selalu menjadi basis perlawanan yang menakutkan bagi penjajah, para santri kelana ini menyebarkan informasi dari satu tempat ketempat yang lain dari satu pesantren kepesantren yang lain. tak jarang mereka juga yang memimpin perlawanan.


Berdasar amanah ayahandanya, Kiyai Irsyad, (yang masih cucu dari Ki Jatira / pendiri Pesarean Babakan Ciwaringin Cirebon, dari pihak ibu), Kiyai Amin agar belajar di Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin pada Kiyai Ismail bin Nawawi yang juga masih keturunan Kiai Jatira (pendiri Pesarean Babakan Ciwaringin Cirebon). Berarti Kiai Amin Sepuh dan Kiai Jatira sama-sama dari Mijahan, Plumbon, Cirebon dan masih berhubungan cicit.


Ketika mesantren di Babakan ciwaringin Beliau dikenal dengan sebutan Santri Pinter, karena beliau pandai mengaji.Beliau kemudian takhassus /Pengabdian di pesantren ini lalu dinikahkan dengan keponakan dari Kiyai Ismail.


Setelah Kiyai Ismail wafat, tepatnya tahun 1916, pengasuh Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin diteruskan oleh muridnya yang menjadi menantu keponakannya yakni Kiyai Muhammad Amin bin Irsyad, yang lebih dikenal Kiyai Amin Sepuh karena keilmuannya dan berasal dari tempat yang sama dengan leluhur dan moyangnya, Kiyai Jatira, dari Mijahan.


Bermodal ilmu pengetahuan yang telah ia peroleh serta upaya mengikuti perkembangan islam yang terjadi di timur tengah pada umumnya mulailah Kiyai AMIN SEPUH memegang tampuk pimpinan Pesantren Babakan Ciwaringin, peninggalan nenek moyangnya itu, dengan penuh kesungguhan.


Kiyai Muda Energik ini, selain mengajarkan berbagai Khazanah kitab kuning juga memperkaya pengetahuan para santrinya dengan ilmu keislaman modrn yang mulai berkembang saat itu. Meski demikian, Seperti halnya pada kebanyakan pesantren, ilmu fiqih tetap menjadi kajian yang sangat diprioritaskan, sebab ilmu ini menyangkut tata kehidupan sehari-hari masyarakat dan individu, dengan sikafnya itu Kiai Amin semakin dikenal diseluruh Jawa sebagai seorang ulama yang sangat alim dan berpemikiran Progresif.


Pasca Revolusi Kemerdekaan beliau terus mengembangkan Pesantren dengan berbagai aral melintang. Bahkan yang dahsyat adalah ketika Agresi Belanda II, tepatnya tahun 1952 Pondok Pesantren diserang Belanda. Dikarenakan KH. Amin Sepuh sebagai sesepuh cirebon merupakan pejuang yang menentang penjajah. Pondok dibakar dan dikepung. Para santri pergi dan para Pengasuh beserta keluarga mengungsi.


Dua tahun kemudian, tahun 1954, Kiyai Sanusi yang masih salah satu murid KH. Amin Sepuh adalah orang yang pertama kali datang dari pengungsiannya. Sisa-sisa kitab suci berantakan, termasuk kitab-kitab karya KH. Amin Sepuh, habis dibakar, bangunan hancur dan nampak angker. Semua itu secara bertahap dibereskan lagi.


Tahun 1955 KH. Amin Sepuh kembali ke Babakan, kemudian para santri banyak berdatangan dari berbagai pelosok. KH. Amin sepuh yang menjadi pengasuh Pondok Gede kembali memberikan pelajaran-pelajaran agama kepada para santrinya. Santri Beliau yang makin lama makin meluap. Pondok Raudhotut Tolhibin tidak dapat menampung para santri. Hingga santrinya dititipkan dirumah-rumah ustadznya seperti KH. Hanan, dirumah KH. Sanusi, dsb. hingga kelak anak cucunya membentuk dan mengembangkan pesantren-pesantren seperti sekarang ini. Sehingga Pondok yang awalnya hanya satu (Ponpes Raudlotut Tholibin) sekarang menjadi banyak. Alhamdulillah, tahun 2012 terdapat sekitar 40 Pondok di lingkungan Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon.


Pada masa pengasuhan KH. Amin Sepuh, Pondok Gede Babakan mencapai kemasyhuran dan masa keemasan serta banyak andil dalam mencetak tokoh-tokoh agama yang handal, hampir semua Kiyai sepuh di wil 3 Cirebon bahkan menyebar ke pelosok Indonesia adalah muridnya, sebut saja Kang Ayip Muh (kota Cirebon), KH. Syakur Yassin, KH. Abdullah Abbas (Buntet), KH Syukron Makmun, KH. Hannan, KH Sanusi, KH.Machsuni (Kwitang), KH Hassanudin (Makassar), di Babakan sendiri muridnya mendirikan pesantren seperti : KH. Muhtar, KH Syaerozi, KH. Amin Halim, KH. Muhlas, KH Syarif Hud Yahya..dll.


Bahkan ribuan Mutakharrijin/alumni telah tersebar diseluruh penjuru tanah air, dengan bermacam profesi dan jabatan di masyarakat maupun lembaga pemerintahan, baik sipil maupun militer, dari mulai Kepala Kantor Kementrian Agama Kota/Kabupaten sampai Kepala Kantor wilayah Kemenag Propinsi, dari Dekan, Direktur Pasca Srjana sampai rektor Perguruan Tinggi, dari Kapolres sampai Kapolda, dari Camat sampai Gubernur dan ribuan pula yang telah menjadi pemimpin dimasyarakat dan Pengasuh Pondok Pesantren (Mama Tua, Karya Muhammad Mudzakkir)


Untuk artefak pesantren Babakan Ciwaringin (Raudhotut Tholibin) sendiri masih eksis, sejak KH. Amien Sepuh wafat pada tahun pada tahun 1972 dan KH. Sanusi wafat pada tahun M.1974 M, dan kepengurusan dilanjutkan oleh KH. Fathoni Amin sampai tahun 1986 M.


Setelah wafatnya KH. Fathoni Amin kepengurusan pesantren dilanjutkan oleh KH. Bisri Amin ( wafat tahun 2000 M.) beserta KH. Fuad Amin ( wafat tahun 1997 M.) dan KH. Abdullah Amin ( wafat tahun 1999 M.) serta KH. Amrin Hanan ( wafat tahun 2004 M.) dan KH. Azhari Amin (wafat tahun 2008 ) KH. Drs. Zuhri Afif Amin wafat pada tahun 2010. setelah wafatnya KH. Drs Zuhri Afif Amin, kepengurusan dilanjukan oleh cucu-cucu KH. Amin Sepuh dan Ulama serta masyarakat yang berkompeten untuk kemajuan pesantren. Bahkan bukan pendidikan agama saja yang mereka terapkan, pendidikan umumpun mereka terapkan terhadap para santrinya. Dengan harapan, para santrinya dapat memenuhi semua kewajibannya, baik kewajiban dunia maupun akhirat, serta menyelaraskannya beriringan dan seimbang.

Kumpulan Karomah Gus Maksum

 Kumpulan Karomah Gus Maksum


Waktu itu tanpa ada sebab yang jelas tiba-tiba ada orang yang menikamnya untungnya Gus Maksum tidak terluka sedikitpun hanya pakaian yang dipakai robek kena tikaman, lalu pakaian itupun beliau simpan karena pemberian dari salah seorang sahabatnya.


Gus Maksum juga disebut sebut kebal terhadap santet. Sudah tidak terhitung banyaknya dukun santet yang pernah dihadapi, sejak kecil Gus Maksum sudah terbiasa menghadapi berbagai macam-macam aliran ilmu santet.

Beliau juga tidak segan-segan untuk menantang para dukun santet secara terang-terangan.Hal itu dilakukan karena santet menurut Gus Maksum termasuk kemungkaran yang harus dilawan.

Kekebalan Gus Maksum terhadap santet juga sudah pembawaan sejak lahir, karena dia masih keturunan Kiai Hasan Besari (Ponorogo).

Menurut Gus Maksum sebagai muslim tidak perlu khawatir terhadap santet,karena santet hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kufur atau murtad. Yang penting seorang muslim haruslah selalu ingat kepada Allah dan bertawakal kepadaNya.

Diantara pengalaman Gus Maksum mengenai santet diantaranya dialaminya ketika menginap di Desa Wilayu, Genteng, Banyuwangi, sekitar jam setengah dua malam, saat hendak istirahat, tiba-tiba dari arah kegelapan muncul bola api sebesar telur terbang menuju kearah pahanya.

Dengan santai Gus Maksum membiarkan bola api itu mendekatinya.Ketika bola api itu sampai ke paha, dia cuma tanya. ”Banyol tha (mau bercanda ya?) seketika itu juga bola api itu melesat pergi ditengah kegelapan malam.

Satu lagi kejadian yang pernah dialaminya, ketika bermalam di Desa Kraton, Ranggeh saat Gus Maksum beristirahat, dia didatangi kera jadi-jadian yang berusaha mencekiknya.

Tapi usaha itu dibiarkannya saja, setelah beberapa lama baru ditanya Gus Maksum. “Mau main-main ya, langsung saja kera itu lari menghindar dari Gus Maksum.

Sebagai pentolan utama NU, Gus Maksum selalu sejalur dengan garis politik NU, namun dia tak pernah terlibat politik praktis, tak kenal dualisme atau dwifungsi.

Ketika NU bergabung ke dalam PPP maupun ketika PBNU mendeklarasikan bergabung dengan PKB, Gus Maksum selalu menjadi jurkam nasional yang menggetarkan podium.

Namun dirinya tidak pernah mau menduduki jabatan legislatif ataupun eksekutif. Gus Maksum wafat di Kanigoro pada 21 Januari 2003 lalu dan dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Lirboyo dengan meninggalkan semangat dan keberanian yang luar biasa.


K.H Muhammad Abdullah Maksum Jauhari atau yang lebih akrab dikenal Gus Maksum, adalah salah satu mutiara yang dimiliki oleh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Tepatnya 8 Agustus 1944 menjadi sejarah yang tak pernah terlupakan. Pada saat itulah Gus Maksum lahir menjadi sosok bayi mungil yang merupakan buah hati dari K.H Abdullah Jauhari & Nyai Siti Aisyah, Lirboyo.

Pendekar, tegas, pemberani, itu salah satu sifat yang selalu tertancap di fikiran kita ketika mendengar namanya. Sifat inilah yang mendorong K.H Mustafa Bisri memerintahkan K.H Suharbillah agar menemui Gus Maksum yang merupakan awal sejarah berdirinya Perguruan Pencak Silat Pagar Nusa yang dinaungi oleh Nahdhatul 'Ulama.

Dalam rekam jejaknya tak sedikit Gus Maksum menorehkan tinta keistimewaan-keistimewaan yang muncul didalam dirinya yang 'alim. Salah satunya yang sampai sekarang selalu di ingat oleh anak OI (Fans Iwan Fals), bagaimana tidak karena dulu pasca kepemerintahan Presiden Soeharto, Gus Maksum pernah diminta oleh Iwan Fals dan Setiawan Djodi untuk hadir dalam konser yang di gelar di Senayan agar berkenan memberikan doa sebelum konser tersebut di mulai.

Setelah permohonan yang di keluarkan oleh Iwan Fals kepada Gus Maksum itu sampai di telinga Gus Maksum, akhirnya beliau pun mengamini permintaan tersebut. Keesokan harinya Gus Maksum pun beralih ke jakarta untuk menghadiri konser besar Iwan Fals tersebut. Setelah sampai ditempat (Senayan) beliau pun hanya stay di belakang panggung bersama crew-crew panggung.

Detik per detik akhirnya konserpun dimulai, setelah lagu per lagu di dendangkan oleh Iwan Fals, euforia penonton saat itu membuat suasana konser menjadi tak kondusif yang berakibat sebuah kericuhan. Bak dimasuki makhluk halus, satu persatu penonton yang berjumlah ribuan orang itupun mencoba menerobos maju kedepan agar dapat melihat Iwan Fals dengan dekat. Pada saat itu Iwan Fals dan sejumlah Aparat keamanan pun tak kuasa menahan bendungan sifat anarkis ribuan penonton. Tribun pun akhirnya jebol.......


Gus Maksum, yang saat itu berada di belakang panggung pun akhirnya memutuskan untuk naik ke atas panggung. Tapi apa daya, dawuhan Beliau enggan didengar oleh seorang pun disana. Dan tiba-tiba, ketika ribuan penonton mulai merangkak naik ke atas panggung. Pada waktu yang sama, Gus Maksum mengayunkan tangannya ayun demi ayun yang kemudian di arahkan keseluruh penonton yang mulai merangkak keatas panggung tersebut.

Dengan izin allah, BOOM !!!

Ribuan penoton itu pun terhentak dan terlempar jatuh kebawah panggung yang tak satupun tersisa diatas panggung. Akibat kejadian itu pun seluruh yang hadir terheran-heran atas kejadian istimewa tersebut.

Semua Ban Kendaraan Konvoi Bocor Karena Kehebatan Gus Maksum Jauhari


KH.MUHAMMAD ABDULLAH MAKSUM JAUHARI


Beliau akrab dipanggil Gus Maksum adalah seorang Ulama,kyai,guru spiritual,petani,peternak dan pengayom Masyarakat,Gus Maksum adalah seorang pendekar sejati yang sangat teguh pendirian,tegas dalam bersikap dan paling tidak suka pada segala bentuk kemungkaran lugas dalam berbicara,lembut,sederhana dan bersahaja dalam penampilan kesehariannya.


Tokoh kelahiran Kanigoro,Kras Kediri 8 Agustus 1944 adalah pribadi yang unik,seunik penampilannya yang selalu berambut gondrong,bersarung,kadangkala bersandal bakiak,berpakaian seadanya,tidak makan nasi/ngrowot dan beragam keunikan lainnya.


Beliau wafat pada hari senin 22 Desember 2003, Meninggalkan suri tauladan bagi santri dan masyarakat Serta mewarisi keilmuan silat yang sempurna IKATAN PENCAK SILAT NU PAGAR NUSA.


Oleh karena itu selayaknya profil beliau kita abadikan agar kita dapat lebih mengenal beliau yang bukan saja seorang pesilat tapi banyak sisi lain yang bisa kita pelajari,sebab beliau tidak hanya konsens disatu bidang saja.disamping itu agar jasa-jasa beliau tidak hilang begitu saja dilupakan,sehingga generasi mendatang bisa meneladani hal-hal positif yang telah ia torehkan.


Ayah Gus Maksum adalah KH.Abdullah Jauhari bin KH.Fadil Batokan daerah yang masuk kecamatan semen Kediri.Ibu Beliau adalah Nyai Hj.Aisyah putrid dari KH.Abdul Karim pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri


Sejak si jabang bayi masih dalam kandungan,Kiai Jauhari dan Nyai Aisyah biasa membacakan Al-Qur’an,Asmaul Husna,Wirid,Shalawat dengan harapan agar kelak bayi yang dilahirkan menjadi seorang anak yang berguna bagi Agama,Nusa dan Bangsa.


Bayi itu kemudian di namakan Muhammad Abdullah Maksum,Waktu terus berjalan bayi itupun beranjak besar tumbuh sebagai anak yang sehat dan bungsu dari ketiga kakak perempuan.wajar jika ia sangat diistimewakan dalam pandangan orang tuanya.


Namun walaupun diistimewakan Gus Maksum kecil bukanlah anak yang manja,justru ia sangat rajin membantu orang tuanya dan sangat patuh terhadap mereka,tak pernah membantah apa yang diperintahkan kedua orang tuanya.Kepatuhan ini bahkan tetap dibawanya sampai ahir hayat.


Gus Maksum kecil sangat cerdas,sejak dini ia sudah dikenalkan dengan ilmu agama,ia bersama ketiga kakak perempuannya dididik langsung oleh Kiai Jauhari dengan pengawasan sangat ketat,setiap jam 01.00 dini hari,Mereka di bangunkan mengambil air wudlu dan shalat malam,kemudian dilanjutkan mengkaji pelajaran.Hal ini berlangsung hingga Gus Maksum kecil pindah kepesantren kakeknya Lirboyo.


Pendidikan formalnya dimulai di sekolah dasar di Kanigoro dan kemudian melanjutkan kejenjang sekolah lanjutan tingkat pertama di pondok pesantren Lirboyo.Dalam membaca Al-Qur’an beliau dibimbing langsung oleh kakeknya KH.Abdul Karim dan Nyai Hj.Khadijah Karim,hingga tak heran ia dikenal sangat fasih dalam melafalkan Ayat-ayat suci Al-Qur’an.


Selama menetap di Lirboyo,Beliau banyak menimba ilmu Agama kepada beberapa kiai di Kediri dan sekitarnya seperti Kyai Jamaludin Batokan,Kyai Jufri,Mbah JIPANG, jipang akronim dari ngaji gampang,nama aslinya adalah Kyai Muhammad Batokan.


Jiwa pesantren sangat melekat pada diri Gus Maksum diantaranya adalah kesederhanaan,kesopan santunan,kepedulian social,dan kepatuhan kepada orang tua dan guru.jiwa pesantren itulah yang membentuk kepribadiannya sejak kecil hingga tua.Kesalehan pribadi dan sosialnya itu hasil dari pendidikan pesantren yang di enyamnya.


Gemar silat sejak kecil


Pertama mengenal silat dari belajar dari seorang pesilat,pengembara dari rengas dengklok,kerawang Jawa Barat (aliran cikaret,cikalong) bernama A.Fathoni metode yang diajarkan setahap demi setahap kemudian dikembangkan secara otodidak ilmu silat yang dipelajari diperdalam sedikit demi sedikit sehingga menjadi permainan silat yang sangat atraktif dan menarik.


Selanjutnya Gus Maksum mengembara dari satu guru silat keguru yang lainnya tanpa meninggalkan mengaji dan sekolah.


Diawali dari guru silat disekitar Kediri,guru silatnya diantaranya,Kyai Kasidak (tinggal antara Kediri Blitar) H.Munawar Jabang Kediri,Bapak Muhajir Mondo Kediri,H.Zaenal Kediri.


Masa Muda Gus Maksum


Masa muda adalah masa yang indah,kadang-kadang seseorang melalui masa mudanya dengan bersenang-senang,santai bahkan cendrung berfoya-foya.Tapi hal itu tidak berlaku bagi Gus Maksum,Masa muda beliau banyak dihabiskan untuk mempelajari segala yang diperlukan sebagai bekal dihari tua,Mengaji,Sekolah,riadlah,belajar silat dan olah kanuragan adalah rutinitas masa mudanya.Beliau sering member nasehat “ TIDAK ADA KAMUS UNTUK BERFOYA-FOYA DALAM MENJALANI KEHIDUPAN,PEMUDA YANG MENGHABISKAN WAKTUNYA HANYA DENGAN KESENANGAN TEMPORAL BELAKA ADALAH PEMALAS YANG MISKIN IDENTITAS,KERING KREATIVITAS DAN HAMPA MILITANSI,TYPE MANUSIA YANG KEMANA ANGIN BERHEMBUS KESANA IA REBAH DAN TERJATUH” Oleh karena itu hari hari Gus Maksum selalu diisi denagn belajar dan belajar.Tidak ada waktu kosong untuk berleha-leha,seluruh waktunya digunakan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat.


Dalam olah batin dan kanuragan,beliau mempelajari dengan mengembara dari satu guru keguru yang lainya seperti halnya dengan silat,Beberapa Guru yang pernah disinggahi antara lain,Kiai Mansur Kali Pucung Blitar ( yang masih termasuk kakeknya dari jalur bapak ) selanjutnya Kiai Ahmad Kemuning Kediri,Kiai Ibrahim Banjar melati Kediri,Habib Jufri Mrican Kediri,dan Habib Baharun Mrican Kediri.


Guru beliau yang paling berpengaruh adalah Kyai Mahrus Ali dan Kyai Ya’kub (Lirboyo) kedua orang ini sangat terkenal memiliki kemampuan silat dan ilmu kanuragan yang mumpuni dan banyak memiliki ilmu karomah warisan wali songo.


Merasa belum puas dengan ilmu yang diperolehnya,Gus Maksum kembali mengembara kebeberapa pelosok nusantara diantaranya ke daerah Jawa Barat dan akhirnya sampailah ke Cirebon tepatnya ke Buntet Pesantren,disana beliau berguru langsung kepada kyai Ilyas dan Kyai Busro dan beberapa kyai buntet yang lainya yang masih keturunan Kyai Abbas Cirebon.


Kisah Mbah Maksum Lasem Uji Kewalian Mbah Hamid Pasuruan


Mbah Maksum Lasem, salah satu pendiri NU, lahir di Lasem pada tahun 1868 dan wafat tahun 1972. Dalam hal usia, beliau lebih sepuh dari KH Hasyim Asy’ari. Walaupun demikian, Mbah Maksum sangat menghormati Kiai Hasyim Asy’ari, bahkan sempat berguru ke Tebu Ireng. Mbah Maksum sangat mencintai NU, bahkan tidak ridho kalau keturunannya tidak mengikuti NU.


Banyak urusan penting NU yang “disowankan” para kiai kepada Mbah Maksum. Ini sama dengan yang dilakukan para kiai kepada Mbah Hamid Pasuruan. Pada masanya, banyak kiai yang “menyowankan” masalah penting NU di Pasuruan. Kedua ulama’ ini dikenal sebagai sosok yang penuh karomah.


Ada kisah menarik dari dua kiai besar ini. Mbah Maksum lebih jauh sepuh dari Mbah Hamid, karena usia Mbah Hamid ini seangkatan dengan putra Mbah Maksum, yakni KH Ali Maksum. Kisah ini dituturkan oleh Pak Fahmy Akbar Idris (Wakil Ketua PWNU DIY saat ini) yang didapatkan dari KH Aly As’ad Plosokuning dari KH Ali Maksum.


Pada suatu hari, Mbah Maksum menguji kewalian Mbah Hamid Pasuruan. Saat itu, Mbah Maksum butuh dana 25 juta untuk sebuah keperluan. Sementara, Mbah Maksum tidak memiliki uang sebesar itu. Maka, saat itu pula Mbah Maksum ingin menguji kewalian Mbah Hamid Pasuruan.


“Kalau Hamid itu wali, maka saat ini saya butuh dana 25 juta,” batin Mbah Maksum.


Sinyal sesama orang shaleh pasti nyambung. Mereka itu frekwensinya sudah sesuai jalurnya, menurut Gus Muwafiq. Maka, kalau sesuatu akan saling terhubung secara otomatis. Demikian juga yang terjadi antara Mbah Maksum dan Mbah Hamid.


Tidak lama setelah itu, tiba-tiba Mbah Maksum kedatangan tamu satu bus. Entah bagaimana, tamu satu bus memberikan salam tempel kepada Mbah Maksum. Setelah tamu pergi, salam tempel itu dihitung ada sejumlah uang 25 juta. Tidak lebih, tidak kurang! Subhanallah!


Itulah frekwensi para wali Allah. Ujian Mbah Maksum direspon begitu cepat oleh Mbah Hamid. Semua itu juga atas kehendak Allah, bukan kesombongan para kekasihnya. Mereka memang sangat dekat dengan Allah, sehingga kehendak para kekasih ini selalu dikabulkan oleh-Nya.

KH Abdullah Salam Wali yang Penuh Karomah

 KH Abdullah Salam Wali yang Penuh Karomah


KH Abdullah Salam dari Kajen Pati diakui justru karena sepanjang hidupnya, ia berusaha melaksanakan ajaran dan keteladanan pemimpin agungnya, Muhammad SAW. Terutama dalam sikap, perilaku, dan kegiatan-kegiatannya; baik yang berhubungan dengan Allah maupun dengan sesama hambaNya.


Berperawakan gagah. Hidung mancung. Mata menyorot tajam. Kumis dan jenggotnya yang putih perak, menambah wibawanya. Hampir selalu tampil dengan pakaian putih-putih bersih, menyempurnakan kebersihan raut mukanya yang sedap dipandang.


Melihat penampilan dan rumahnya yang tidak lebih baik dari gotakan tempat tinggal santri-santrinya, mungkin orang akan menganggapnya miskin; atau minimal tidak kaya. Tapi tengoklah; setiap minggu sekali pengajiannya diikuti oleh ribuan orang dari berbagai penjuru dan semuanya disuguhi makan.


Selain pengajian-pengajian itu, setiap hari ia menerima tamu dari berbagai kalangan yang rata-rata membawa masalah untuk dimintakan pemecahannya. Mulai dari persoalan keluarga, ekonomi, hingga yang berkaitan dengan politik. Bahkan pedagang akik dan minyak pun beliau terima dan beliau ‘beri berkah’ dengan membeli dagangan mereka.


Ketika ia masih menjadi pengurus (Syuriyah) NU, aktifnya melebihi yang muda-muda. KH Abdullah Salam tidak pernah absen menghadiri musyawarah semacam Bahtsul masaail, pembahasan masalah-masalah yang berkaitan dengan agama, yang diselenggarakan wilayah maupun cabang. Pada saat pembukaan muktamar ke 28 di Situbondo, panitia memintanya –atas usul kiai Syahid Kemadu—untuk membuka Muktamar dengan memimpin membaca Fatihah 41 kali. Dan ia jalan kaki dari tempat parkir yang begitu jauh ke tempat sidang, semata-mata agar tidak menyusahkan panitia.


Semasa kondisi tubuh nya masih kuat, ia juga melayani undangan dari berbagai daerah untuk memimpin khataman Quran, menikahkan orang, memimpin doa, dsb.


Ketika kondisi nya sudah tidak begitu kuat, orang-orang pun menyelenggarakan acaranya di rumahnya. Mbah Dullah, begitu orang memanggil kiai sepuh haamilul Qur’an ini, meskipun sangat disegani dan dihormati termasuk oleh kalangan ulama sendiri, ia termasuk kiai yang menyukai musyawarah.


Ia bersedia mendengarkan bahkan tak segan-segan meminta pendapat orang, termasuk dari kalangan yang lebih muda. Ia rela meminjamkan telinganya hingga untuk sekedar menampung pembicaraan-pembicaraan sepele orang awam. Ini adalah bagian dari sifat tawaduk dan kedermawanannya yang sudah diketahui banyak orang.


Tawadu atau rendah hati dan kedermawanan adalah sikap yang hanya bisa dijalani oleh mereka yang kuat lahir batin, seperti Mbah Dullah. Mereka yang mempunyai (sedikit) kelebihan, jarang yang mampu melakukannya. Mempunyai sedikit kelebihan, apakah itu berupa kekuatan, kekuasaan, kekayaan, atau ilmu pengetahuan, biasanya membuat orang cenderung arogan atau minimal tak mau direndahkan.


Rendah hati berbeda dengan rendah diri. Berbeda dengan rendah hati yang muncul dari pribadi yang kuat, rendah diri muncul dari kelemahan. Mbah Dullah adalah pribadi yang kuat dan gagah luar dalam. Kekuatannya ditopang oleh kekayaan lahir dan terutama batin. Itu sebabnya, disamping dermawan dan suka memberi, Mbah Dullah termasuk salah satu –kalau tidak malah satu-satunya – kiai yang tidak mudah menerima bantuan atau pemberian orang, apalagi sampai meminta. Pantangan. Seolah-olah beliau memang tidak membutuhkan apa-apa dari orang lain. Bukankah ini yang namanya kaya?


Ya, mbah Dullah adalah tokoh yang mulai langka di zaman ini. Tokoh yang hidupnya seolah-olah diwakafkan untuk masyarakat. Bukan saja karena ia punya pesantren dan madrasah yang sangat berkualitas; lebih dari itu sepanjang hidupnya, mbah Dullah tidak berhenti melayani umat secara langsung maupun melalui organisasi (Nahdlatul Ulama).


Mungkin banyak orang yang melayani umat, melalui organanisi atau langsung; tetapi yang dalam hal itu, tidak mengharap dan tidak mendapat imbalan sebagaimana mbah Dullah, saya rasa sangat langka saat ini. Melayani bagi mbah Dullah adalah bagian dari memberi. Dan memberi seolah merupakan kewajiban bagi beliau, sebagaimana meminta –bahkan sekedar menerima imbalan jasa-- merupakan salah satu pantangan utama.


Ia tidak hanya memberikan waktunya untuk santri-santrinya, tapi juga untuk orang-orang awam. Beliau mempunyai pengajian umum rutin untuk kaum pria dan untuk kaum perempuan yang beliau sebut dengan tawadluk sebagai ‘belajar bersana’. Mereka yang mengaji tidak hanya beliau beri ilmu dan hikmah, tapi juga makan setelah mengaji.


Pernah ada seorang kaya yang ikut mengaji, berbisik-bisik: “Orang sekian banyaknya yang mengaji kok dikasi makan semua, kan kasihan kiai.” Dan orang ini pun sehabis mengaji menyalami mbah Dullah dengan salam tempel, bersalaman dengan menyelipkan uang. Spontan mbah Dullah minta untuk diumumkan, agar jamaah yang mengaji tidak usah bersalaman dengannya sehabis mengaji. “Cukup bersalaman dalam hati saja!” katanya.


Konon orang kaya itu kemudian diajak Mbah Dullah ke rumahnya yang sederhana dan diperlihatkan tumpukan karung beras yang nyaris menyentuh atap rumah, “Lihatlah, saya ini kaya!” kata mbah Dullah kepada tamunya itu.


Memang hanya hamba yang fakir ilaLlah-lah, seperti mbah Dullah, yang sebenar-benar kaya.


Kisah lain; pernah suatu hari datang menghadap Mbah Dullah, seseorang dari luar daerah dengan membawa segepok uang ratusan ribu. Uang itu disodorkan kepada Mbah Dullah sambil berkata: “Terimalah ini, mbah, sedekah kami ala kadarnya.”


“Di tempat Sampeyan apa sudah tak ada lagi orang faqir?” tanya mbah Dullah tanpa sedikit pun melihat tumpukan uang yang disodorkan tamunya, “kok Sampeyan repot-repot membawa sedekah kemari?”

“Orang-orang faqir di tempat saya sudah kebagian semua, mbah; semua sudah saya beri.”

“Apa Sampeyan menganggap saya ini orang faqir?” tanya mbah Dullah.

“Ya enggak, mbah …” jawab si tamu terbata-bata.

Belum lagi selesai bicaranya, mbah Dullah sudah menukas dengan suara penuh wibawa: “Kalau begitu, Sampeyan bawa kembali uang Sampeyan. Berikan kepada orang faqir yang memerlukannya!”

Kisah di atas yang beredar tentang ‘sikap kaya’ mbah Dullah semacam itu sangat banyak dan masyhur di kalangan masyarakat daerahnya.

Mbah Dullah ‘memiliki’, di samping pesantren, madrasah yang didirikan bersama rekan-rekannya para kiai setempat. Madrasah ini sangat terkenal dan berpengaruh; termasuk –kalau tidak satu-satunya— madrasah yang benar-benar mandiri dengan pengertian yang sesungguhnya dalam segala hal.


32 tahun pemerintah orde baru tak mampu menyentuhkan bantuan apa pun ke madrasah ini. Orientasi keilmuan madrasah ini pun tak tergoyahkan hingga kini. Mereka yang akan sekolah dengan niat mencari ijazah atau kepentingan-kepentingan di luar ‘menghilangkan kebodohan’, jangan coba-coba memasuki madrasah ini.


Ini bukan berarti madrasahnya itu tidak menerima pembaruan dan melawan perkembangan zaman. Sama sekali. Seperti umumnya ulama pesantren, beliau berpegang kepada ‘Al-Muhaafadhatu ‘alal qadiimis shaalih wal akhdzu bil jadiidil ashlah’, “ Memelihara yang lama yang relevan dan mengambil yang baru yang lebih relevan”. Hal ini bisa dilihat dari kurikulum, sylabus, dan matapelajaran-matapelajaran yang diajarkan yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.


Singkat kata, sebagai madrasah tempat belajar, madrasah mbah Dullah mungkin sama saja dengan yang lain. Yang membedakan ialah karakternya.


Agaknya mbah Dullah –rahimahullah — melalui teladan dan sentuhannya kepada pesantren dan madrasahnya, ingin mencetak manusia-manusia yang kuat ‘dari dalam’; yang gagah ‘dari dalam’; yang kaya ‘dari dalam’; sebagaimana ia sendiri. Manusia yang berani berdiri sendiri sebagai khalifah dan hanya tunduk menyerah sebagai hamba kepada Allah SWT.


Inilah perjuang yang luar biasa berat. Betapa tidak? Kecenderungan manusia di akhir zaman ini justru kebalikan dari yang mungkin menjadi obsesi mbah Dullah. Manusia masa kini justru seperti cenderung ingin menjadi orang kuat ‘dari luar’; gagah ‘dari luar’; kaya ‘dari luar’, meski terus miskin di dalam.


Orang menganggap dirinya kuat bila memiliki sarana-sarana dan orang-orang di luar dirinya yang memperkuat; meski bila dilucuti dari semua itu menjadi lebih lemah dari makhluk yang paling lemah. Orang menganggap dirinya gagah bila mengenakan baju gagah; meski bila ditelanjangi tak lebih dari kucing kurap. Orang menganggap dirinya kaya karena merasa memiliki harta berlimpah; meski setiap saat terus merasa kekurangan.


Sayang sekali jarang orang yang dapat menangkap kelebihan mbah Dullah yang langka itu. Bahkan yang banyak justru mereka yang menganggap dan memujanya sebagai wali yang memiliki keistimewaan khariqul ‘aadah. Dapat melihat hal-hal yang ghaib; dapat bicara dengan orang-orang yang sudah meninggal; dapat menyembuhkan segala penyakit; dsb. dst. Lalu karenanya, memperlakukan orang mulia itu sekedar semacam dukun saja. Masya Allah!


Dari sentuhan tangan dinginnya di Pesantren yang terletak di pinggiran pantai utara Jawa itu, lahir ulama-ulama besar seperti KH Sahal Mahfudz, KH Abdurrahman Wahid dll.


Begitulah; Mbah Dullah yang selalu memberikan keteduhan itu telah meninggalkan kita di dunia yang semakin panas ini. Ia sengaja berwasiat untuk segera dimakamkan apabila meninggal. Agaknya ia, seperti saat hidup, tidak ingin menyusahkan atau merepotkan orang. Atau, siapa tahu, kerinduannya sudah tak tertahankan untuk menghadap Khaliqnya.


25 Sya’ban 1422 bertepatan 11 November 2001 sore, ketika Mbah Dullah dipanggil ke rahmatullah, wasiat pun dilaksanakan. Ia dikebumikan sore itu juga di dekat surau sederhananya di Polgarut Kajen Pati.


“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-sejatiKu, dan masuklah ke dalam sorgaKu"


WEJANGAN KH. NAFI' ABDULLAH SALAM (Kajen)

1. "Nek donyo ora usah luru kemulyaan, sebab kemulyaan ora kanggo nek dunyo nanging Allah SWT maringi kemulyaan nek akhirat iku sing hakikat. kapan sopo wonge entuk kemulyaan nek donyo ora bakal nek akhirat entuk kemulyaan." wallahu'alam.

2. "Nek dunyo akeh fitnah, sopo wae sing seneng dunyo mesti akeh fitnahe." wallahu'alam.

3. "rizki ora usah diluru, nek luru rizki mesti ibadahem walkeduwal."wallahu'alam.

4. Ngendikane Mbah Dullah marang aku (Mbah Nafi) wayah tahlil kapundute Mbah Muzayyin, aku diweling Mbah Dullah "Besok nek aku mati ojo diumumno yo, cepet-cepet dimakamno, nek apik ben dang ngerti panggone, nek elek ben dang reti panggone. ora usah diwarak-warakno." wallahu'alam.

5. "Wong sholat iku kudu sabar. wayah moco fatihah yo sabar. wayah ruku' yo sabar. wayah opo wae nek njerone sholat kudu sabar lan tuma'ninah." wallahu'alam.

6. "Sepodo-podo iku kudu welas asih. sebab wong iku ora ngerti pastine. sing perso pastine wong namung Allah SWT."wallahu'alam.

7. "Nek Njerone ati iku ojo sampek sepi sangking dzikir, kapan sepi songko dzikir mesti setan gampang mlebu." wallahu'alam.

8. "Medit-medite wong kapan ono asmane kanjeng Nabi Muhammad Saw disebut ora gelem jawab besok nek akhirat bakal dadi wong sing bangkrut."wallahu'alam.

9. "Ketoke wong akeh podo ngaji mrene (masjid Kajen), tapi kadang niate bedo-bedo." wallahu'alam.

10. "Akeh wong sing kepingin ben diarani apik, iku malah iso dadikno rusake amal." wallahu'alam.

11. "Sak durunge mlebu toriqoh kudu syariate kuat ndisik, sebab opo, pondasi/dasare ibadah iku nek syariat. syariat iku sing gawe kanjeng Nabi Muhammad Saw. kapan ora manut syariate Kanjeng Nabi Muhammad Saw berarti ora umate Kanjeng Nabi Muhammad Saw." wallahu'alam.

12. "Aku ngaji ngeniki, durung tentu aku luweh pinter karo sampeyan. aku mek tukang moco tok, nek ono makno sing suloyo, durung iso ngelakoni opo sing tak woco, aku yo ojo ditukari, yo ojo dicegat nek ratan. mulane aku tau ditawari gelar doktor tapi kon bayar 10 juta tapi aku moh. duwe gelar doktor nek ditakoki ora bejos jawab dak malah piye. wong basa arab wae isih ngene kok. tapi mbeke profesor lah durung karuan iso moco kitab salaf."wallahu'alam.

13. "Kabeh kedadian nek dunyo Allah sing Ngudaneni, makhluk ojo melu ngatur kehendak Allah Swt." wallahu'alam.

14. "Istighfarmu kudu di istighfari meneh, sebab lakonmu istighfar durung murni kerono Allah Swt. tapi nek lambe-lambe tok" wallahu'alam.

15. "Akeh-akehno moco salawat Nabi Muhammad Saw." wallahu'alam.

16. "Kuwe nek bar shalat fardlu kirimo fatihah tujokno Mbah Mutamakin, insya Allah ono labet apek." wallahu'alam.

17. "Bapak/Mbah Dullah, ndisik nek minterno anak-anake dikon sinau terus kapan ora iso moco kitab dianggep ora anake, sakliane sinau setiap sedekah Mbah Dullah, diniati nyedekahi anak ben dadi wong kabeh." wallahu'alam.

18. "Wayah wong sakratul maut, sing manjeng nek pinggirem antara setan karo malaikat, mongko wong sing ape mati iku kudu dituntun karo syahadat lan tahlil."wallahu'alam.

19. "Aku moh dadi kiai, sebab abot dadi kiai, tanggungjawabe nek akhirat tambah abot kerono durung iso ngelakoni, aku ngaji iki yo ngji karo mushonef/pengarang kitab. ngaji nek kene (Masjid Kajen), aku mek macakno tok keranten diutus Bapak/Mbah Dullah. La aku nek gak anut ora dianggep anak dak payah dewe aku." wallahu'alam.

Sampun rien njeh, asline taseh katah, ananging niki kangge kulo sinau / pelajaran teladan lan ikhlas.

Dawuhe Mbah Nafi, "Nek iku pelajaran yo tular-tularno nek konco-koncomu, meski akeh rahasia-rahasia, tapi nek rahasia kdu khusus."

Semoga manfaat dan penuh hikmah.

Sungkem ta'dhim kagem Syekh Nafi Abdillah Salam Kajen. al-Fatihah....

Semoga amal ibadah panjenengan dilipatgandakan Allah SWT, dan ditempatkan di surga. Amin.


Kewalian dan Karomah KH.Abdullah Zain Salam Pati


Kewalian dan Karomah KH.Abdullah Zain Salam PationSenin, Januari 15th, 2018.This Is Article AboutKewalian dan Karomah KH.Abdullah Zain Salam PatiKH.Abdullah Salam yang akrab disapa dengan Mbah Dullah dilahirkan di desa Kajen-Margoyoso Pati; dengan Nama Abdullah, ketika anak beliau di tambahi Zain, menjadi Abdullah Zain untuk membedakan beliau dengan beberapa anak sebaya yang kebetulan bernama sama: Abdullah. belum jelas tanggal serta bulan kelahiran beliau; sementara tentang tahun ini masih khilaf.Ada beberapa informasi yang kami dapatkan. KH Ma’mun Muzayyin menantu Mbah Dullah mengaku bahwa yang […]

Kewalian dan Karomah KH.Abdullah Zain Salam Pati


KH.Abdullah Salam yang akrab disapa dengan Mbah Dullah dilahirkan di desa Kajen-Margoyoso Pati; dengan Nama Abdullah, ketika anak beliau di tambahi Zain, menjadi Abdullah Zain untuk membedakan beliau dengan beberapa anak sebaya yang kebetulan bernama sama: Abdullah.

Belum jelas tanggal serta bulan kelahiran beliau; sementara tentang tahun ini masih khilaf.Ada beberapa informasi yang kami dapatkan. KH Ma’mun Muzayyin menantu Mbah Dullah mengaku bahwa yang dia dengar dari ayah KH Muzayyin beliau lahir tahun 1917. Sementara masih menurut KH Ma’mun Muzayyin, Mbah Dullah sendiri secara langsung pernah mengatakan bahwa tahun kelahiran beliau berkisar antara tahun 1910-1915.


Beliau adalah salah satu putra dari keluarga dari KH Abdussalam. KH Abdussalam ini beristri empat orang. Dari istri pertama di karunia anak, yakni Nyai Aisyah dan KH.Mahfudz,yang wafat dalam tahanan Ambarawa saat terjadi perang dunia ke-II. Sementara Mbah Dullah sendiri adalah pertama dari istri kedua KH.Abdussalam yaitu Nyai Sumrah, yang seluruhnya empat bersaudara yaitu :KH Abdullah Salam, KH.Ali Muktar, seorang putri yang meninggal pada usia empat tahun dan terakhirnya Nyai Saudah yang bermukim di Jepara. Menurut infoman yang kami terima, dua istri terakhir dari KH Abdussalam tak meninggalkan keturunan. Nasab Mbah Dullah dari pihak ayah (Konon juga dari pihak ibu,tapi masih belum jelas benar )sampai kepada Syaikh Waliyyullah KH.Abdullah bin Nyai Mutirah binti KH.Bunyamin bin Nyai Thoyyibah binti Kiai Muhammad Endro Kusumo bin KH.Ahmad mutamakkin.


Sejak kecil Mbah Dullah telah terbiasa hidup terpisah dari keluarga. Sebelum genap tujuh bulan, beliau ikut pamannya dari pihak ibu di jepat yaitu kiai Sholihin untuk mengaji alquran bin nadhor. Saat usianya menginjak tujuh tahun, dia diantar oleh pamannya KH.Mahfudz ke Sampang, Madura untuk menghafal alquran dibawah bimbingan kiai Sa’id.Selesai mondok di Sampang beliau pun pulang di Kajen dan bersekolah di Mathali’ul Falah yang berlakangan beliau sendiri yang menjadi pengasuhnya . Di madrasah inilah beliau mengeyam pendidikan.Menginjak remaja , secara pribadi beliau banyak belajar kepada kakaknya KH.Mahfudz yang usianya terpaut jauh dari beliau. KH.Mahfudz menerapkan disiplin belajar yang sangat ketat kepada Abdullah muda, Sampai-sampai diatas dokarpun saat dalam perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, Abdullah muda tetap diwajbkan belajar dengan membawa dan membaca kitab. Kecuali pada kakaknya KH.Mahfudz, konon beliau juga sempat belajar pada pamannya KH.Abdussalam ,yaitu KH.Nawawi, setelah merampungkan pendidikannya di pesantren Tebuireng, Jombang di bawah asuhan KH.Hasyim Asy’ari.Di Tebuireng ini beliau seangkatan dengan teman-teman sesama dari Kajen antara lain KH.Duri Nawawi, KH.Ni’am Tamyiz dan KH.Abdul hadi. Di antara dua yang terakhir, usia beliau yang paling muda , namun demikian justru beliaulah yang sering mmbantu mencarikan tambahan bekal bila kedua teman tersebut kebetulan kehabisan bekal. Sebenarnya pendidikan beliau Di Tebuireng belum rampung, namun ditarik pulang oleh KH.Abdussalam beliau dinikahkan dengan Nyai Aisyah. Lalu beliau mondok untuk ngaji Qiro’atus sa’bah ditempat KH.Arwani, Kudus,sebelum atau sesudah menikah? yang jelas,tempat KH.Arwani inilah KH.Abdullah Salam mngakhiri perjalanan panjang riwayat pendidikannya sebelum kembali ke Kajen.Meskipun secara formal pendidikan beliau sudah berakhir, namun secara informal beliau masih aktif belajar pada beberapa pihak,termasuk pada KH.Muhamadun, Kajen pada tahun 1956-1957. Sepulang dari kudus, beliau mengajar di perguruan Islam Mathali’ul Falah serta PMH pusat. Dan setelah wafatnya ayahanda dan kakanda (KH.Abdussalam dan KH.Mahfudz ) praktis KH.Abdullah Salam harus menjadi kepala keluarga bagi keluarga besar KH.Abdussalam ;karena kedudukan beliau sebagai anak lelaki tertua yang masih hidup.Tentu saja,ini bukanlah beban tanggung jawab yang ringan, mengingat saat itu usia beliau masih cukup muda,kurang lebih 30-an, sementara di sisi lain, situasi ekonomi di indonesia sendiri secara keseluruhan sedang ambruk.

Tawadlu’


Tawadlu’adalah sikap mbah dullah yang juga menonjol.Konon,saat fisiknya masih kuat,setiap bulan ramadan sesekali beliau menghidangkan santapan sahur hasil masakan sendiri dan tak mau dibantu.Ketika masih sehat,beliau memang terbiasa mengerjakan sendiri semua kebutuhan sehari-harinya : mulai menyiapkan makanan,minuman sampai dengan mencuci barang pecah belah dan pakaiannya sendiri.Bahkan bagi sebagian tamu-tamunya,sering kali beliau sendiri tak segan-segan menyiapkan makanan dan minuman.

Sikap tawadlu’juga tercermin dari cara beliau menyikapi aktivitas sosial keagamaan yang beliau niatkan untuk memakmurkan masjid ; sehingga beliau tidak pernah keberatan yang beliau rintis bersama KH.Muhammadun tidak diikuti otang atau mudah diisi oleh orang lain,selama tujuan memamurkan masjid tercapai.

Beliau juga tidak merasa kesal atau sakit hati terhadap kritik atau koreksi meski datang dari orang yang jauh lebih muda dan lebih ‘terbatas ilmunya’; bahkan walaupun kritik dan koreksi tersebut sebenarnya keliru atau salah alamat.Dalam pengajian hari kamis misalnya,aapkali bacaan beliau dipotong dan dikoreksi orang.Bukan Cuma sekali dua kali,bacaan bisa dipotong berkali-kali sehingga membuat para pendengar lebih kesal dan menggerutu.Tapi mbah Dullah sendiri tak menampakkan kekesalan,bahkan meneladani dan sering kali jutru mengambil sikap layaknya seorang murid yang minta bimbingan gurunya.

Sikap tawadlu’ nampaknya sudah menjadi pembawaan beliau,setiap kali berhadapan dengan orang ,beliau hampir sekali memposisikan dirinya pada tempat yang lebih rendah ketimbang yang dihadapi meski sangat jarang dan biasanya hanya pada orang yang dekat paling jauh beliau akan memposisikan diri pada tempat yang lebih tinggi dari orang yang di hadapi.Seperti air,beliau selalu mencari tempat yang lebih rendah yang bisa dicapai.

Ada Kisah menarik dari sikap mbah dullah ini,saat iitu malam jum’at,dan seperti biasanya setiap malam beliau berziarah ke makam KH.Ahmad Mutamakkin,Cuma kali ini beliau ditemani oleh KH.Muslim Rifa’i imampuro (Mbah Lim) Klaten. Setelah beberapa kali menolak,akhirnya dengan terpaksa Mbah Dullah mau memimpin tahlil.Nah,tepat pada pengucapan kalimat tahlil,perlahan-lahan kendali kepemimpnan tahlil bergeser dari mbah dullah ke mbah Lim.Ini terjadi karena mbah dullah terbiasa dengan pengucapan kalimat tahlil yang berirama tetap,dengan vokal yang relatif lembut dan temponya pun lambat ; sementara mbah Lim bsa mengucapkan kalimat tahlil dengan irama naik turun,vokal yang keras dan tempo yang cepat.Sehingga lambat lebih suara mbah dullah tenggelam di tengah suara mbah lim.Akibatnya jamaah lebih mendengar suara mbah lim ketimbang suara mbah dullah,dan mereka pun mulai mengucapkan tahlil seirama dengan yang diucapkan mbah lim.

Melihat hal ini,mbah Dullah mengalir saja sama sekali tak mengesankan kegelisahan san kekesalan dan bahkan ikut tenggelam dalam hentakan tahlil yang dipimpin mbah Lim.Maka gema suara tahlil yang luar biasa menggetarkan itu terus mengalir sedemikian rupa,tanpa seorang pun menghentikan.Mbah Dullah yang tampak karam tak menghentikan,karena merasa bahwa kendali sudah berada di tangan mbah Lim; sementara mbah Lim sendiri sempat gelisah pada berapa kesempatan tak bisa menghentikan karena berasa bahwa pada dasarnya yang memimpin adalah mbah Dullah. Akibatnya : suara tahlil yang menggetar itu sampai lebih dari satu jam tanpa ada yang berani berinisatif menghentikan, sehingga jamaah yang yang memenuhi ruangan pada malam itu banyak yang gelisah dan letih, konon bahwa ada yang sampai pingsan. Dan memang, pembacaan tahlil itu pada akhirnya ditutup oleh mbah Lim, karena tak ada tanda-tanda bahwa mbah Dullah akan menutupnya.

Istiqomah

Mbah Dullah di kenal dengan sikap istiqomahnya. Apalagi ibadah wajib, untuk ibadah sunahpun ,kalau sudah beliau pilih untuk di kerjakan mak akan beliau kerjakan secara istqomah. Ada saatnya ketika remaja beliau tak ragu memaksa diri tidur di tangga pintu rumah KH.Nawawi. Maksudnya agar ia bisa bangun diri di buka oleh KH.Nawawi saat hendak berangkat sholat subuh.

Tampaknya tak ada yang memutus istiqomah ini kecuali sakit yang sangat berat.Sebagai contoh : sejak 1998, ketika beliau mulai sakit dan tak bisa mengimami sholat berjamaah, beliau tetap berusaha untuk tidak meninggalkan kebiasaannya sholat berjamaah; meski harus tertatih-tertatih ke Musholla,bahkan pernah harus memakai kursi roda dan menjadi makmum sambil duduk .

Menurut sumber yang dekat dengan beliau, sikap istiqomah ini adalah hasil perjuangan yang terus menerus sejak beliau masih mondok di Madura. Sejak di madura itulah misalnya beliau mulai berusaha mendawamkan puasa Dawud. Ibadah yang selalu beliau lakukan hampir sepanjang hidup. Memang untuk ibadah sunnah yang beliau akan memperlakukannya, seolah-olah ibadah wajib, tak heran tiap kali bisa melakukannya, maka beliau akan segera menqodlonya di kesempatan selanjutnya.

Beliau sangat sedikit tidur di waktu malam. Kecuali menjalankan ibadah sunnah hampir setiap malam beliau mempelajari kitab sampai bejam-jam. Bahkan usianya yang senja, beliau aktif membeli kitab-kitab baru untuk beliau pelajari. Tak heran kalau beliau kaya khazanah pemikran Islam, sekaligus bersikap terbuka dan toleran terhadap gagasan yang baru segar.Wawasan yang luas dan dalam ini pun tampaknya berusaha beliau sembunyikan dalam pergaulannya sehari-hari.

Seringkali, beliau hanya membaca satu baris dar kitab dan menjabarkannya dengan bening selama satu jam atau bahkan lebih .Bahkan di tangan beliau tema-tema yang pelik dan abstrak sekitar tauhid misalnya, bisa dipaparkan dengan enteng dan mudah di cerna.Tentang hal ini KH.MA.Sahal Mahfudz sendiri mengakui penguasaan KH.Abdullah Salam terhadap khasanah tasawuf dan fiqih .’’Beliau itu satu satunya panutan setelah ulama Kajen banyak meninggal, sebab penguasaan tasawuf dan fiqihnya sangat memadai”demikian komentarnya.’’

Kedermawanan

Mbah Dullah juga dikenal sebagai orang yang murah hati dan suka bersedekah tanpa menghitung nilai barang yang diberikan.Jika beliau memilki sesuatu,dan ternyata sesuatu itu diinginkan oleh orang lain; maka tanpa pikir panjang meski nilai nominal sesuatu itu tinggi beliau akan segera memberikannya.Sikap dermawan ini sudah tampak sejak beliau muda

Perhatiannya terhadap kaum’juga besar.Melihat kenyataan bahwa banyak biaya pemeliharaan kesehatan yang relatif tak terjangkau oleh kemampuan kemampuan ekonomi masyarakat pedesaan,beliau berinisiatif mendirikan balai kesehatan yang kini menjadi rumah bersalin (RB) sebagai fasilitas pelayanan kesehatan bagi orang yang kurang mampu,tentu dengan pengobatan yang sangat ringan.


Pernah juga,saat mbah dullah berkunjung ke rumah salah satu kenalannya,tiba-tiba muncul permintaan yang tidak masuk akal dari salah seorang yang kebetulan berada disana ; yang meminta sandal yang dikenakan mbah dullah.Tentu saja permintaan ‘gila’ini membuat geger beberapa orang kebetulan berada disana.Mereka mencoba mencegah,dan menjelaskan bahwa mbah dullah tidak punya sandal cadangan untuk beliau pakai pulang.Tapi mbah dullah sendiri tenang saja,dan justru melerai kemarahan orang-orang yang mencoba permintaan tersebut.Sandal langsung beliau berikan,dan beliau rela bertelanjang kaki.Meski pada akhirnya beliau tidak benar-benar pulang bertelanjang kaki karena diantara yang hadir ternyata ada pemilik toko sepatu meskipun tokonya sudah tutup karena sudah pukul sepuluh lebih tak keberatan mengambil sandal pengganti untuk beliau. Namun sikap beliau yang tanpa beban bisa melepaskan sesuatu yang dibutuhkan sendiri untuk memenuhi kebutuhan orang lain,benar-benar mencerminkan kedermawanan yang nyaris sempurna.


Kesufian KH.Abdullah Zain Salam


KH Abdullah Zen Salam adalah sosok seorang figur yang karakternya patut untuk diteladani, amalan ibadah beliau mencakup seluruh amaliyah keseharian yang selalu beliau jaga dan istiqomahkan, tidak ada kata “nganggur”. Dalam kamus hidup beliau. 9)

Konon semasa hidup KH Abdullah Zen Salam selalu disibukkan dengan jadwal ketat yang memang adalah amaliah keseharian beliau, mulai dari bangun tidur sampai dengan jadwal beliau hendak tidur lagi selalu beliau niatkan Lillahi Ta’ala dalam semua jenis kegiatan. Perilaku, akhlaq, tindakan sampai Dawuh beliau adalah hikmah yang menjadi uswah teladan bagi orang-orang di sekitarnya. Beberapa bidang pengajaran yang beliau aktif terjun di dalamnya adalah sebagai Pengasuh di pesantren Tahafudz untuk para siswa PIM dan guru Thoriqoh, salah satu staf pengajar di PIM, koordinator Masjid Kajen, Pengampu pengajian kitab kuning mingguan pada hari Rabu dan Kamis di ndalem beliau dan lapangan Margoyoso juga banyak aktivitas lain yang beliau turut gawe di dalamnya.

Di samping karakter Mbah Dullah yang tak membiarkan amalannya mejadi kesia-siaan dalam ibadah, beliau adalah Sosok Fleksibel di mata masyarakat. Mbah Dullah yang dipandang sebagai sosok Sufi, ahli Fikih dan Tsawuf ini juga paham akan permasalahan selain keilmuan.

Di nilai seperti itu karena konon, dulu saat masyarakat yang datang dari berbagai kelas sosial dan mata pencaharian yang tidak sama datang pada beliau untuk sowan dan mengutarakan permasalahan, belaiu pasti paham dan memberikan solusi dengan tepat.

Ada cerita, tiga puluh tahun yang lalu sekitar tahun 1975 ada salah satu dari para hadirin yang ikut pengaosan malem sowan pada beliau dan meminta restu untuk nyalon sebagai Lurah di Blora, oleh MbahDullah dijawab dengan tenang “kowe nduwe duet seket juta? Umpomo nduwe yo monggo nyalonno”. Kata-kata Mbah Dullah yang sedikit ini bisa diambil hikmah, bahwa tiga puluh tahun yang lalu, sosok MbahDullah yang tidak pernah terjun langsung dalam dunia politik dan dilihat dari perekonomian masyarakat yang baru hidup beliau sudah paham akan Metode Money Politic (politik uang) yang pada zaman itu seorang ahli politik pun belum dirasa sampai pada pemikiran seperti itu namun Mbah Dullah sudah paham benar.

Dan dari cerita lain, ada seseorang yang ingin mencalonkan diri sebagai DPR yang sowan dan minta restu kepada Mbah Dullah, oleh Mbah Dullah dijawab dengan tegas bahwa jika seseorang menginginkan posisi sebagai Wakil Rakyat maka dia harus mampu berkepribadian seperti Dzul Yaddain dan jangan sampai mempunyai sifat Dzul Wajhain.

Dalam sebuah kisah di dalam kitab Al Hadits Bulughul Marom, Dzul Yaddain adalah seorang sahabat Nabi, suatu ketika Nabi tengah menjalankan ibadah sholat Dhuhur namun anehnya sholat yang beliau lakukan hanya dua rakaat, mendapati pemandangan tersebut para sahabatr yang lain hanya melihat dan berhusnudzon bahwa mungkin saja Nabi mendapat wahyu yang menjadikan sholatnya hanya dua rakaat atau mungkin Nabi sedang mengkosor sholatnya. Namun tidak dengan Dzul Yaddain, setelah Nabi salam dia menanyakan perihal apa Nabi melakukan sholat dhuhur dua rokaat, ternyata Nabi lupa bahwa sholatnya belum genap empat rakaat. Setelah sadar akan kesalahan itu beliau pun sholat kembali dua rakaat. (Pelajaran dari Dzul Yaddain adalah jangan segan menegur pemimpin yang salah atau mungkin lupa bahwa dia melakukan sesuatu yang keliru). Tegas akan sesuatu yang haq dan Batil meski seorang yang salah itu mempunya posisi yang lebih tinggi derajatnya di atas kita. Dan jangan sampai mempunyai sifat Dzul Wajhain, Dzul Wajhain di sini bermakna seorang yang mempunyai Dua Wajah, Paradoks, atau biasa disebut juga Munafik. Haram hukumnya menjadi orang yang bersifat seperti ini di mana pun posisi dia berada10).


KH.Abdullah Zain Salam, Organisator Sukses


Figur organisator sukses, beliau KH.Abdullah Zain Salam adalah seorang Manager yang hebat dari masanya hingga ketiadaannya. Sosok karismatik, berwawasan dan pendidik yang patut diteladani.

Dulu pada zamannya Mbah Dullah adalah orang yang tidak senang merepotkan orang lain, beliau lebih suka melakukan sendiri semuanya dan turun langsung dalam semua kegiatan. 11)

Contohnya organisasi sebagai staf pengajar di PIM, pondok pesantren dan Masjid Kajen, beliau mengkoordinir semuanya dengan rapi dan baik.Di Masjid Kajen beliau yang mengatur, mulai Khotib sholat Jum’at, Badal Imam sholat, Bilal, hingga Mu’adzin. Menstruktur pengajar dan kegiatan murid di PIM mendidik dan memilih kader sebagai pengurus di pesantren. Di dalam keluarga pun Mbah Dullah adalah sosok kepala keluarga yang sukses mengantarkan putra putri beliau menjadi manusia yang sholih dan akrom,

Dengan gaya mengajar Tegas dan Disiplin, beliau mendidik mereka sesuai bidang pribadi masing-masing dengan catatan Al-Quran adalah fokus pertama yang harus diutamakan. Setelah dirasa mampu akhirnya Mbah Dullah mengatur manajemen pesantren ketangan para putra beliau dimana beliau masih mengomando dari belakang. 12)


KH Abdullah Zain Salam dikaruniai sembilan orang anak yang dua meninggal saat masih kecil yakni:

Ibu Nyai Hj.Munawwaroh , menikah dengan KH.M.Busro Abdul Latif menetap di Purwodadi. Pengasuh pondok Pesantren. Nurul Hidayah. Dikaruniai 4 orang anak.


Laki- laki, meninggal Saat Masih Kecil

Ahmad Nafi’ Abdillah, menikah dengan Nyai Hj.Mahmudah Nafi’. Menetap di Kajen. Pengasuh pondok PMH PUSAT dan sekarang menjadi Direktur Perguruan Islam Mathaliul Falah. Dikarunia 8 orang anak.

Ibu Nyai Hj.Hanifah Menikah Dengan KH.Ma’mun Muzayyin. Menetap di Kajen, Pengasuh PP.Al.Hikmah Dan Madrasah Perguruan Islam Al-Hikmah(PRIMA). Dikarunia 11 orang anak.

Ahmad Minan Abdullah menikah dengan Nyai Hj.Maftukhah Minan, menetap di Kajen, pengasuh PP.Nurul Quran. Dikaruniai 5 orang anak.

Nyai Hj.Ishmah menikah dengan KH.Ulin Nuha Arwani,menetap di Kudus, pengasuh yayasan Arwaniyah-Yanbu’a. Dikaruniai 2 orang anak namun meninggal semua saat masih kecil.

Zaki Fuad, menikah dengan Nyai Hj.Robiatul Adawiyah, menetap di Kajen, pegasuh PP.Al-Kautsar dan SMK Cordofa. Dikaruniai 9 orang anak.

Nyai Hj.Shofwatin Nikmah, menikah dengan KH.Abdullah Ubaid, menetap di Tegal, pengasuh PP.Darul Quran. Dikaruniai 7 orang anak, 1 meninggal.

Perempuan, meninggal Saat Masih Kecil 13)


Banyak pondok pesantren yang fakum sementara setelah Romo Kiyainya meninggal dunia karena Gusnya (putra Kiyai) belum mampu menggantikan posisi Abahnya sebagai Pengasuh Pondok, namun KH.Abdullah Zain Salam telah membuktikan bahwa metode pendidikan yang beliau terapkan telah berhasil, terbukti setelah ketiadaan beliau para putra beliau telah siap tampil menggantikan posisi beliau.


Metode pendidikan ini kiranya diajarkan secara turun temurun hingga sekarang.


Figur Yang Dihormati


Terhormat, adalah kata yang lazim bila disandingkan dengan KH.Abdullah Zain Salam, berbagai sifat dan akhlaq mulia yang beliau contohkan telah membangun pribadi yang layak untuk menyebutnya sebagai seorang yang terhormat.


Konon pada tahun 1999 KH.Abdurrahmah Wachid yang biasa disapa Gus Dur saat itu baru resmi dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia, selang beberapa hari kurang lebih belum ada satu minggu beliau sudah menyempatkan diri untuk sowankekediaman KH.Abdullah Zain salam untuk silaturrahmi dan meminta restu dari beliau.


Pernah ditulis dalam beberapa buah buku biografi KH.Abdurrahman Wachid bahwa beliau adalah salah seorang Waliyullah yang karismatik dan ma’rifat, tertulis juga dalam sebuah buku tentang beliau, bahwa ada tiga orang Kiyai di Indonesia yang sangat beliau hormati dan segani yang juga tergolong Waliyullah, nama–nama beliau sama, yaitu menggunakan nama panggilan Abdullah. Yaitu KH.Abdullah Abbas Cirebon, KH.Abdullah Fakih Jawa Timur Dan KH.Abdullah Zain Salam Jawa Tengah. 14)


Ada sebuah cerita dari ibu Hj.Sholichah Muchtar, bahwa pernah pada tahun 1970 beliau sowan kekediaman KH.Hamid di Pasuruan, oleh beliau Ibu Sholichah ditanya alamat, setelah Ibu Sholihah menjawab bahwa beliau berangkat dari Kajen, KH.Hamid bercerita, ditanah Jawa banyak terdapat kiyai karismatik namun hanya tinggal dua Waliyullah yang sekarang masih ada yaitu KH.Muhammadun dan KH.Abdullah Zain Salam yang berada ditanah Kajen Pati.


Akhir hayat KH.Abdullah Zain salam


Sejak seminggu sebelum wafatnya mbah Dullah tepatnya pada hari Ahad 4 November 2001 kesehatan KH.Abdullah Zain Salam mendapatkan masalah yang cukup serius, pada hari Senin tanggal 5 November dengan tertatih beliau memaksakan diri pagi-pagi sekali untuk berziarah ke sarean kakek buyutnya sekaligus guru rohaninya yaitu KH.Ahmad Mutamakkin.


Sepertinya beliau sudah sangat menyadari bahwa waktunya sudah akan tiba. Dokter Muhtadi yang sudah puluhan tahun menangani kesehatan beliau sebagai Dokter pribadi memaksa beliau untuk dirawat di RSI (Sunan Kudus) setelah melihat detak jantung beliau yang tampak cepat dan tidak setabil, meski awalnya beliau menolak saat yang meminta adalah putra dan kerabat beliau namun akhirnya beliau mau menuruti ketika yang menyarankn adalah seorang dokter. Saat hendak dibawa ke RS Kudus beliau sempat berpamitan dengan istrinya, Nyai Aisyah.


Pada 1 November 2001 beliau memaksa untuk pulang dari rumah sakit, waktu itu dokter menghendaki agar beliau mau dirawat sampai kondisi kesehatannya relatif membaik namun kepada cucunya Muhammah Ainun na’im beliau malah menegaskan “buat apa lama-lama disini, saya mau pulang sekarang, saya ini mau meninggal.” Memang, sudah lebih setahun terakhir beliau acap kali berkata bahwa beliau sudah tidak punya apa-apa lagi kecuali ini, katanya sambil menunjuk jam tangan yang digunakan beliau. Waktu itu tidak ada yang berfikiran bahwa yang beliau maksud adalah yang beliau miliki tinggal waktu menunggu jemputan ajal.


Pagi itu keinginan beliau untuk pulang tidak bisa dicegah lagi dan beliau akhirnya memang benar-benar pulang kerumahnya di Kajen. Bahkan tampaknya bukan ingin pulang kerumah tapi sekaligus pulang ke kamarnya sendiri. Ini tampak ketika keluarganya menyiapkan kamar khusus di rumahnya yang dimaksud untuk mempermudah perawatan, beliau menolak dan terus memaksa untuk ditempatkan dikamarnya sendiri. Kehendak beliaupun dituruti, beliau ditempatkan dikamarnya sendiri yang sangat sederhana, tempat yang menjadi saksi pengabdian beliau dan juga sebagai saksi bisu kepergian beliau. 17)


Setelah semalam kondisi kesehatannya tampaknya tidak stabil,sehabis subuh beliau tampak tertidur nyenyak.Kondisi ini berlangsung sampai ajal menjemputnya pada pukul 14.33 WIB.Kondisi ini beliau demikian tenang dan damai ketika berangkat menuju kekasih agungnya. Hari itu ahad 11 November 2001 , yang bertepatan dengan 25 sya’ban 1422 H , semesta tertunduk menghormati keberangkatan sang permata, inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

Karomah Wali Songo yang Perlu Anda Ketahui

 Karomah Wali Songo yang Perlu Anda Ketahui


Walisongo (sembilan wali) merupakan tokoh Islam yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Islam di Indonesia, khususnya tanah Jawa. Mereka adalah para pendakwah yang menyebarkan ajaran agama Islam kepada para penduduk di Nusantara, mengajari berbagai pengetahuan, dan membangun pondasi mental bangsa kita ini.

Sejarah wali songo sangatlah panjang, jika anda membaca bukunya yang sering dijual di sekitaran makam para wali ini, maka anda bisa menemukan berbagai informasi menarik di dalamnya. Kali ini saya akan membahas tentang sedikit informasi sejarah perjalanan masing-masing para wali dan berbagai karomahnya yang ajaib.


1. Sunan Gresik


Nama aslinya adalah Maulana Malik Ibrahim, dikenal pula dengan Syeh Maghribi atau kakek bantal, adalah seorang yang dianggap sebagai yang pertama menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa. Ajarannya tepat pada masa kerajaan Majapahit. Dipercaya bahwa Sunan Gresik bukanlah orang Jawa asli, namun beliau dimakamkan di Gresik, Jawa Timur.


Karomah Syeikh Maulana Malik Ibrahim :


Sunan Gresik dipercaya ampuh dalam memohon turunnya hujan kepada Allah SWT melalui sholat Istisqa meskipun sedang kemarau Syeikh Maulana Malik Ibrahim pernah mengubah beras menjadi pasir untuk mengingatkan saudagar kaya yang pelit.

Doa-doanya mujarab untuk menyelesaikan masalah dan mengobati penyakit masyarakat


2. Sunan Ampel

Nama aslinya adalah Raden Rahmat dikenal pula dengan nama Syekh Ibrahim Asmarakandi atau Bong Swi Hoo, anak dari sunan Gresik. Ajarannya yang terkenal adalah larangan untuk mabuk, judi, zina, maksiat, mencuri, dan berbagai tindakan buruk lainnya. Peninggalannya adalah masjid Agung Demak.

Karomahnya :

Muridnya adalah mbah Soleh, seorang tukang sapu masjid yang konon meninggal 9 kali (ada bukti kuburan 9 di sekitar makamnya)

Murid lainnya adalah mbah Sonhaji (bolong) yang melubangi tempat imam masjid untuk membuktikan pada warga bahwa arah masjid sudah betul karena warga melihat kiblat dari lubang tersebut.

Ada cerita yang menyebutkan bahwa sunan Ampel mampu berjalan di atas air


3. Sunan Giri

Pendiri kerajaan Giri Kedaton, dikenal pula dengan nama Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden 'Ainul Yaqin, dan Joko Samudro. Pernah berguru pada Sunan Ampel, berdakwah dengan kesenian seperti Jelungan, Cublak Suweng, Gending.

Karomah :

Raden Paku memasukkan pasir ke kapal dan berubah jadi barang dagangan

Memetik buah delima tanpa memanjatnya dan hanya memandanginya saja

Adu kesaktian dengan Begawan Minto dan menyadarkannya


4. Sunan Bonang

Nama aslinya adalah Raden Maulana Makdum Ibrahim, putra Sunan Ampel. Dikenal dengan berbagai seni, mulai dari wayang, ilmu tasawuf, sastra, tembang Tombo Ati.

Karomah :

Mengubah pohon aren jadi pohon emas

Mengalahkan musuh dengan gending dan tembangnya tanpa menyentuh tubuh musuhnya

Mengalahkan Brahmana dari India dengan keajaiban


5. Sunan Dradjat

Dikenal dengan nama Raden Qasim, Raden Syarifudin, anak Sunan Ampel dan saudara Sunan Bonang. Ajarannya mendasar kepada sikap manusia di dunia namun sangat mendalam, menciptakan tembang Mocopat Pangkur.

Karomah :

Kala perahunya terbalik, beliau ditolong oleh ikan cucut dan talang (cakalang)

Memancarkan air dari lubang bekas umbi yang menjadi sumur abadi

Memindahkan masjid dalam waktu semalam

Membuat pohon Siwalan menunduk untuk diambil buahnya

Menyadarkan orang dengan tembang dan gamelan


6. Sunan Kalijaga

Dikenal dengan nama Raden Said, Lokajaya, syeikh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Beliau pernah merampok tongkat Sunan Bonang untuk diberikan pada orang miskin namun dinasehati dengan baik, akhirnya jadi muridnya setelah memenuhi syaratnya untuk menjaga tongkat yang ditancapkan di sungai selama 3 tahun. Karyanya adalah lir-ilir, gundul-gundul pacul, dan beberapa kesenian lainnya.

Karomah :

Mengambi tumor dari perut penderitanya tanpa operasi

Mengubah gula aren jadi emas

Punya amalan yang membuatnya sangat dekat dengan Allah SWT


7. Sunan Kudus

Nama aslinya adalah Sayyid Ja'far Shadiq Azmatkhan, pernah berguru pada sunan Kalijaga. Membuat masjid agung Kudus, melarang penyembelihan sapi untuk menghargai penganut Hindu.

Karomah :

Dapat menyembuhkan penyakit (atas izin Allah SWT)


8. Sunan Muria

Namanya adalah raden Umar Said, putra dari Sunan Kalijaga. Ikut menyebarkan ajaran agama Islam di sekitar Jawa Tengah, khususnya kudus.


9. Sunan Gunung Jati


Dikenal dengan nama Syarif Hidayatullah, berdakwah pada masa kerajaan Padjajaran dan prabu Siliwangi yang terkenal. Berperan penting dalam mengadili Syekh Siti Jenar yang sesat.

Karomah :

Mengubah pohon menjadi emas

Berjalan di atas air

Menyembuhkan penyakit

Mengundang bala tentara


 

Kisah hikmah karomah wali Alloh Mbah kumbang Tulungagung Jawa timur

 Kisah hikmah karomah wali Alloh Mbah kumbang Tulungagung Jawa timur


Wali kumbang adalah sebutan Aulia didaerah tulungagung,tepatnya didekat jantung kota tulungagung utara pasar pahing lawas ditengah-tengah pemukiman warga,,Mengapa disebut wali kumbang dan apa saja karomahnya?,,disini kami akan menulis artikel tentang Mbah wali kumbang yang kami peroleh informasinya dari Almarhum Romo yai Asrori ibrohim,pengasuh pondok pesanten panggung tulungagung Jawatimur IndonesiaWali Alloh Mbah Kumbang,,


Romo yai Asrori ibrohim berkata kurang lebih begini,,Mbah wali kumbang namanya asli Seh Sulaiman termasuk pr4jurit bawahan dari pejuang ternama negri kita diponegoro,,hidup dizaman penjajah4n,Beliau seorang yang biasa bertukang kayu atau mengukir,sambil dia mengukir dia selalu berdhikir sehingga suara dhikirnya menyerupai suara kumbang yang berbunyi gembrumbung,itu bahasa jawanya,,sehingga disebut "Mbah kumbah",,diceritakan bahwa yang mengukir tiang penyangga mesjid jami' tulungagung yang lama yang sekarang berada dimasjid gedang sewu itu termasuk karyan Mbah kumbang Ada juga kisah versi lain,


Mengatakan bahwa disebut wali kumbang karena pada zaman penjajahan beliaunya punya keramah bisa mendatangkan kumbang/tawon saat berper4ng melawan belanda,,Salah satu karomahnya mbah kumbah lagi yaitu makamnya tidak mau ditutupi atau dibuatkan cungkup,,kalau ada orang memasangnya maka akan hilang ,karena tertiup angin kencang,,memang beliau menginginkan langsung hanya p payung langit,,waullohua'lam,,

Demikianlah sekilas info tentang karomah Mbah Kumbang didaerah kota tulungagung bersinar,,Semoga kisah ini dapat bermanfaat dan mengipirasi kita untuk lebih giat melakukan dhikrilah,,,Amin


MBAH KUMBANG PENGUKIR MASJID AGUNG DAN PENDOPO TULUNGAGUNG


Di setiap kabupaten, tak terkecuali Kabupaten Tulungagung, pasti memiliki tokoh- tokoh lokal yang mempunyai jasa tertentu terhadap daerahnya. Tokoh tersebut biasanya diuri- uri (dilestarikan) keberadaannya oleh masyarakat sekitar dimana tokoh tersebut dimakamkan. Cara masyarakat melestarikan sang tokoh biasanya membangun, menjaga dan membersihkan makamnya. Ada kalanya mengenang semua peristiwa yang pernah dilakukan oleh sang tokoh kemudian diceriterakan secara lesan kepada generasi berikutnya. Bahkan tidak sedikit yang membuat cerita- cerita baru sekedar untuk meyakinkan kehebatan sang tokoh kepada orang lain.


Kalau kita sedang berada di lapangan Pasar Pahing (Lapangan Wira Mandala), barat terminal Tulungagung, di barat lapangan ada jalan ke utara. Berjalan ke utara sekitar 300 meter kemudian belok ke kanan 100 meter (ke timur) akan kita temukan sebuah makam kuno di dalam bangunan kecil di sebelah utara jalan. Makam tersebut adalah makamnya Mbah Kumbang.


Mbah Kumbang yang memiliki nama asli Imam Hambali tidak diketahui secara jelas asal usulnya dari mana. Nama Jawa beliau adalah Ki Mulyono. Beliau dimakamkan di Kelurahan Karangwaru Kecamatan Kota Tulungagung. Sampai saat ini makam Mbah Kumbang banyak dikunjungi oleh peziarah yang melakukan dzikir dan bacaan kalimat thoyyibah lainnya untuk mendoakan beliau. Sudah barang tentu kalau akan masuk ke makam Mbah Kumbang harus minta izin dahulu kepada Kaur Kesra (Modin) Kelurahan Karangwaru, karena yang memiliki tanggung jawab pemeliharaan makam Mbah Kumbang adalah Kelurahan Karangwaru yang secara teknis perawatannya diserahkan kepada Kaur Kesra dan Kaur Kesralah yang membawa kuncinya makam.


Mbah Kumbang oleh masyarakat Karangwaru dipercayai sebagai orang yang awal mula babat alas Karangwaru dan mengajar ngaji serta dakwah Islamiyah di Karangwaru dan sekitarnya sehingga Islam berkembang di Karangwaru sampai saat ini. Oleh sebab jasa beliau inilah makam Mbah Kumbang pernah dibangun oleh bapak H. Yamani dan sampai sekarangpun jika ada perbaikan makam keluarga bapak H. Yamani selalu dilibatkan. Beliau mendapat julukan (panggilan) Mbah Kumbang karena kalau tadarus (membaca) Al Qur’an atau berdoa suaranya gembremeng ( berdengung) seperti suara kumbang yang sedang terbang. Namun ada juga yang menyatakan beliau mendapat julukan Mbah Kumbang karena keahliannya membuat ukir- ukiran kayu. Mbah Kumbang kalau mengukir kayu , dalam membuat lekuk-an- lekuk-an (lengkung) , kedalaman pahatan, kerumitan, kehalusa dan tipenya mirip bagaikan se-ekor kumbang.


Sesuai daftar silsilah yang terdapat di makam Mbah kumbang, beliau keturunan ke 9 dari Ibrahim Asmarakundi. Silsilah tersebut lebih lengkapnya sebagai berikut:


1. Ibrahim Asmarakundi.

2. Raden Rahmat (Sunan Ampel).

3. Syarifuddin (Raden Kosim/ Sunan Drajad)

4. Umayah

5. Anim

6. Djamus

7. Ma’ruf

8. Dja’far

9. Rohmat

10. Imam Hambali (Mbah Kumbang)


Jasa- jasa beliau disamping telah babat alas di Karangwaru dan berdakwah Islamiyah, beliaulah yang telah membuat hiasan berupa ukir- ukiran masjid Agung Kabupaten Tulungagung yang dibangun tahun 1847 pada masa kadipaten Ngrowo dijabat oleh RMT. Djajaningrat, Adipati (bupati) Ngrowo ke 5 (1831- 1855). Sekarang masjidnya dipindah di Dusun Gleduk Desa Gedangsewu Tulungagung, tepatnya di pondok pesantren almarhum bapak H. Mashuri. Mbah Kumbang, disamping telah membuat ukir- ukiran masjid Agung Tulungagung, beliaulah yang telah membuat ukir- ukiran pendopo Kabupaten Tulungagung yang dibangun tahun 1824 pada masa Kadipaten Ngrowo dijabat oleh RMT. Pringgodiningrat, Adipati (Bupati) Ngrowo ke 4 (1824- 1830) . Pendopo Kabupaten Tulungagung tersebut sekarang sudah mengalami beberapa kali renovasi dan diberi nama “ Kongas Arum Kusumaning Bongso”. Nama tersebut menunjukkan suryo sengkolo tahun pembuatan/ renovasi pendopo, yaitu kongas= 0, arum= 9, kusuma= 9 dan bomngso=1. Dibaca terbalik menjadi 1990 .M. Yang memberi nama pendopo dan alun- alun Tulungagung adalah Bapak Ema Kusmadi, budayawan Jawa Tulungagung.


Walaupun masa kehidupan Mbah Kumbang tidak dapat ditelusuri secara pasti; kapan lahir, kapan meninggal , kapan babat alas dan dengan siapa saja, siapa istrinya dan siapa anaknya, namun karena beliau orang yang telah membuat ukir- ukiran masjid dan pendopo Kabupatena Tulungagung, maka dapat dipastikan beliau hidup pada abad 18, antara tahun 1824 -1855 . Menurut penuturan Kaur Kesra Karangwaru yang diperoleh dari berita – berita masyarakat sebelumnya, semua alat- alat pertukangan dalam membuat ukir- ukiran pendopo maupun masjid ditanam dekat makam beliau, tepatnya di timurnya.


Ada cerita yang menyatakan bahwa Mbah Kumbang sangat akrab dengan Mbah Langkir yang makamnya ada di dekat masjid Desa Winong. Kalau dilihat tahun kehidupan antara Mbah Kumbang dengan Mbah Langkir memang berdekatan. Mbah langkir hidup di Kadipaten Ngrowo setelah perang Diponegoro ( 1825- 1830 ). Mbah Langkir salah seorang mantan prajurit Pangeran Diponegoro yang melarikan diri ke Kadipaten Ngrowo setelah Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Makasar. Apalagi domisili Mbah Langkir ketika masih hidup di sekitar perempatan selatan alun- alun Tulungagung, dekat dengan desa Karangwaru tempat domisili Mbah Kumbang. Disamping itu keduanya sama- sama terkenal sebagai tokoh spiritual pada masanya.

Karomah Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari

 Karomah Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari


Diantara ulama Nusantara terkemuka abad ke-18 m yg dikenal kedalaman ilmu dan kecemerlangan karya karyanya adalah syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau yg sering kita sebut Datu Kalampayan,beliau lahir pada 15 syafar 1122h/maret 1710 m dikampung lokgabang martapura kalimantan selatan,nama lengkap beliau adalah Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdurrahman Al-Banjari,terlahir dari seorang ibunda

yg sholehah bernama Siti Aminah,ayah beliau yg bernama Abdullah bin Abdurrahman adalah seorang yang zuhud dan alim,beliau tumbuh dan besar dalam suasana keislaman yg kental dibawah pemerintahan kerajaan islam banjar.sejak umur 7 thn beliau sudah fasih dan sempurna dalam membaca Al-Qur'an ,kecerdasannya dalam ilmu agama dan bakat melukisnya menarik perhatian Sultan penguasa kerajaan banjar pada waktu itu,maka Muhammad Arsyad kecil pun diboyong untuk belajar ilmu agama dilingkungan istana bersama keluarga kerajaan,setelah dewasa dan menikah karena kepandaian dan kecerdasan beliau dalam mempelajari ilmu agama maka menjelang usia 30 thn beliau diberangkatkan ketanah suci Mekah untuk memperdalam ilmu agama dengan dibiayai oleh kerajaan,karena Sultan berharap dengan ilmu yg dipelajarinya nanti ditanah suci itu kelak akan dapat membimbing dan mengajarkan ilmu kepada rakyat banjar dan sekitarnya.


Ditanah suci Mekah dan Madinah ini beliau belajar kepada beberapa ulama terkenal dan wali pada jamannya diantara guru guru beliau adalah :

1.Syekh Athaillah bin Ahmad Al-Mihsri Al-Azhari Mekah

2.Syekh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi Madinah (pengarang kitab hawayil madaniyyah)

3.Syekh Muhammad bin Abdul karim As-Semman Al-Madany dalam ilmu tasawuf yang akhirnya beliau mendapatkan ijazah dengan kedudukan

Khalifah (waakil)

4.Syekh Ahmad bin Abdul Muun'in Ad-Damanhuri

5.Syekh Sayyid Abul Faydh Muhammad Murtadha' Az-Zabidi

6.Syekh Hasan bin Ahmad 'Akisy Al-Yamani

7.Syekh Salim bin Abdullah Al-Bashri

8.Syekh Siddiq bin Umar Khan

9.Syekh Abdullah bin Hijazi bin Asy-Syarqawi

10.syekh Abdurrahman bin Abdul Azis Al-Magribi

11.Syekh Sayyid Abdurrahman bin Sulaiman Al-Ahdal

12.Syekh Abdurrahman bin Abdul Mubin Al-Fatani

13.Syekh Abdul Ghani bin Muhammad Hilal

14.Syekh Syekh 'Abid As-Sindi

15.syekh Abdul Wahab Ath-Thanthawi

16.Syekh Maulana Sayyid Abdullah Mirghani

17.Syekh Muhammad bin Ahmad Al-Jawahir

18.Syekh muhammad Zayn bin Faqih Jalaluddin Aceh


ketika beliau di Mekah beliau bersahabat dengan para penuntut ilmu dari tanah air dan merupakan sahabat erat,mereka adalah Syekh Abdul wahab Bugis dari Makasar,Syekh Abdus Samad dari Palembang (pengarang kitab Siyarus Salikin dan Hidayatus salikin) dan Abdurrahman dari Betawi.


konon pada waktu beliau berada diMekah,beliau menemui keanehan pada setiap hari jum'ad di Mesjid Al-Haram,ada seseorang yang lain dari kebiasaan berpakaian orang arab lainnya,orang tersebut berpakaian hitam dan memakai laung dan memakai butah,pakaian khas dari banjar,setiap habis berdoa orang tersebut selalu menghilang tanpa bekas,dengan rasa penasaran kemudian pada jum'ad berikutnya beliau menunggu kedatangan orang itu tp seperti biasa selesai habis shalat jum'ad dan berdoa orang tsb selalu menghilang,kemudian pada jum'ad yg lainnya ketika orang tersebut datang beliau segera ikut sholat disamping nya dengan harapan dapat berkenalan dengan orang tersebut,ketika selesai berdoa tak ingin kehilangan orang tersebut dengan sigap beliau lalu memegang tangan orang tersebut,"mengapa tuan menangkap tangan

saya "kata orang tsb.


setelah terlebih dahulu Syekh Muhammad Arsyad minta maaf beliau lalu berkata

"maaf saya ingin bertanya siapakah anda,disini semua orang berpakaian ikhram sedangkan anda tidak berpakaian ikhram'"maaf hamba berasal dari kampung muning tatakan rantau borneo "jawab orang itu

"mengapa anda setiap hari jum'at bisa sholat disini' kata Syekh Muhammad Arsyad kembali

"alhamdulillah semua adalah anugrah dari Allah SWT "kata orang tersebut yg setelah berkenalan adalah Datu Sanggul "saya berasl dari martapura borneo sudikah kiranya anda mampir kerumah saya "pinta Syekh Muhammad Arsyad "baiklah "jawab Datu Sanggul,kemudian mereka berjalan ketempat tinggal Syekh Muhammad Arsyad ,sesampai dirumah Syekh Muhammad Arsyad memeluk datu sanggul dan mencium tangan beliau sambil berkata "sampeyan adalah saudara ulun dunia akhirat'"ya...kita saudara dunia akhirat "jawab Datu Sanggul "dimanakah kakanda belajar sehingga mendapatkan anugerah begitu besar ini" Syekh

Muhammad Arsyad kembali bertanya "kakanda belajar dengan Datu suban dimuning pantai munggu tayuh tiwadak gumpa dan sekarang beliau telah wafat,dan kepada kakanda diberikan sebuah kitab dan Al-Qur'an segi delapan,kedua pusaka itu asalnya adalah milik Datu Nuraya yang juga telah wafat" ,mendengar cerita tentang kitab tersebut Syekh Muhammad Arsyad sangat tertarik. "kalau kakanda menganggap saya sebagai saudara

dunia akhirat izinkanlah adinda ikut mempelajari isi kitab tersebut " boleh saja adinda mempelajari kitab tsb namun kitab ini harus dibagi dua bagian,dengan dipotong segitiga silahkan adinda memotongnya "kata Datu Sanggul sambil mengeluarkan kitab yg selalu dibawanya,Syekh Muhammad Arsyad mengambil pisau yg sangat tajam dan mulai memotong kitab tsb,namun alangkah terkejutnya beliau karna pisau yg sangat tajam

tersebut tidak dapat memotong kitab itu menjadi dua bagian bahkan mata pisau tsb menjadi tumpul,kemudian kitab tsb diserahkan kembali kepada Datu Sanggul untuk beliau potong sendiri,kemudian Datu Sanggul hanya dengan menggoreskan kuku beliau kitab tersebut terbelah menjadi dua bagian,yg kemudian satu bagiannya diserahkan kepada Syekh Muhammad Arsyad untuk dipelajari dan bagian yg satunya beliau bawa kembali dengan pesan setelah selesai mempelajari dan pulang keborneo untuk mengambil bagian yang satunya,"jika adinda nanti pulang keborneo dan bertandang kerumah kakanda untuk mengambil kitab yg satunya hendaklah adinda mmbawa kain putih sebanyak lima lembar,kakanda berharap agar adinda jangan sampai lupa pesan kakanda ini "kata Datu Sanggul menambahi "baiklah pesan kakanda akan adinda ingat selalu dan adinda memohon doa restu dan mendoa kan adinda dalam mempelajari kitab ini ,


karena hari sudah menjelang magrib Datu Sanggul lalu berpamitan untuk pulang ke borneo " tunggu sebentar kakanda ada yg adinda pertanyakan lagi dihalaman istana ada tumbuh sebatang pohon durian ,apakah pohon tersebut berbuah atau belum,kalau sudah berbuah adinda mohon kakanda memetiknya sebiji untuk adinda,sebab selama adinda tinggal disini adinda belum pernah memakan buah durian "

"pohon durian tsb sekarang sedang berbuah namun buahnya cuma dua biji dan dijaga ketat oleh pasukan raja siang dan malam agar tak seorang pun dapat mengambilnya,sebaiknya buah tsb jangan diambil sebab nantinya mungkin akan berakibat tidak baik "kata datu sanggul,tp karna didesak oleh Syekh Muhammad Arsyad akhirnya Datu Sanggul berjanji memenuhi permintaan Syekh Muhammad Arsyad.


pada jum'ad berikutnya ketika tengah hari Datu Sanggul memetik buah durian yg dijaga oleh pasukan raja tanpa diketahui oleh satu orangpun,al hasil kerajaan menjdi gempar,baginda raja sangat marah dan berencana menghukum para pasukan yg menjaga pohon durian tsb,tapi permaisuri melarang baginda raja menghukum mereka karena tidak ada bukti kesalahan mereka,singkat cerita buahdurian tersebut diserahkan kepada Syekh

muhammad Arsyad dengan pesan supaya tangkai durian tadi disimpan sebagai bukti nanti kepada baginda raja,setelah berpisah kembali dengan Datu sanggul beliau dengan tekun mempelajari kitab tsb.


Setelah lebih 30 thn Syekh Muhammad Arsyad belajar ditanah suci akhirnya beliau menguasai berbagai bidang ilmu agama,sebenarnya beliau dan kawan kawan tidak ingin pulang ketanah air dan ingin melanjutkan pelajaran ke mesir namun maksud tersebut dibatalkan karena perintah gguru mereka yaitu Syekh Sulaiman Al-Kurdi yang menyatakan bahwa ilmu mereka sudah cukup dalam dan luas dan lebih penting untuk memberi pelajaran dan bimbingan kepada masyarakat masing masing,akhirnya mereka menuruti nasehat guru mereka itu,setia ditanah Betawi (Jakarta) Syekh Muhammad Arsyad dan kawan kawannya disambut oleh ulama dan orang banyak dengan gembira,selama dijakarta berkat karamah yang beliau miliki beliau

dapat membetulkan arah kiblat mesjid yang kurang tepat,diantaranya mesjid Jembatan Lima,Mesjid Luar Batang dan Mesjid Pekojan setelah sholat sunat eliau hanya menggeserkan sorban beliau ...luar biasanya bangunan mesjid tsb mengiringi geseran sorban beliau...subhanallah....


itu adalah sebagian karamah beliau yg diluar nalar manusia dan banyak lagi yg lainnya,setelah sampai dimartapura beliau langsung menuju istana kerajaan dan disambut dengan meriahnya,dalam kesempatan tsb beliau menceritakan hal ikhwal mengenai durian lengkap dengan hari tanggal dan jam kehilangan durian diistana raja,akhirnya raja memakluminya dan bersyukur karena tidak menghukum para prajurit kerajaan,

setelah beberapa hari beliau minta ijin kepada raja untuk mendatangi datu Sanggul dengan diiringi sepasukan prajurit raja,tak lupa beliau membawa kain putih yg dipesankan oleh Datu Sanggul,setelah sampai dikampung muning tatakan rantau dengan petunjuk masyarakat beliau langsung menuju rumah Datu Sanggul,tapi apa yg terjadi setelah sampai dirumah Datu Sanggul ternyata beliau baru saja berpulang kerahmatullah....

Innalillahi wainailahirajiun....ternyata kain putih yang dipesankan oleh Datu Sanggul untuk kain kapan beliau...subhanallah...setelah pemakaman Datu Sanggul atas pesan beliau sebelum wafat kepada istrinya maka diserahkan penggalan kitab yg kemudian hari disebut kitab barencong kepada Syekh Muhamad Arsyad Al-Banjari,lalu Syekh Muhammad Arsyad pamit untuk pulang kemartapura.


disamping sebagai seorang pengajar Syekh Muhammad Arsyad adalah seorang penulis yang produktif diantara kitab kitab yang beliau tulisadalah...


1.Sabilal Muhtadin (kitab fiqih)

2.Risalah Ushuluddin (kitab tauhid)1188 hijriah

3 Tuhfatur Raghibin (kitab tauhid)1188 hijriah

4Kanzul Ma'rifah (tasawuf)

5.Lugthatul 'Ajlan (kitab fiqih khusus masalah perempuan)

6.Kitab Faraid (kitab pembagian waris)

7.Al-Qawlul Mukhtashar(kitab berisi tentang Imam Mahdi)1196 hijriah

8.Kitab Ilmu Falak (astronomi)

9.Fatawa Sulaiman Kurdi (berisi fatwa fatwa guru beliau Sulaiman Al-Kurdi)

10.Kitabun Nikah (tata cara perkawinan dalam syariat islam)


Selain itu ada pula karya tulis beliau berupa Mushaf Al-Qur'an tulisan tangan beliau berukuran besar dengan Khat sangat indah dan sampai sekarang masih bisa dilihat di Museum Nasional Banjarbaru Kalimantan Selatan,beliau mempunya 11 orang istri dan mempunyai 30 orang anak dan sekarang sudah tersebar kemana mana,dikalimantan khususnya kalimantan selatan keturunan dari Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari merupakan mutiara yang tiada ternilai,keturunan beliau merupakan penerang penerang bagi para pecinta ilmu...salah satunya Yang Mulia Guru kita Alm.

Syekh Muhammad Zaini bin H. Abdul Ghani Al-Banjari ,Syekh Muhammad Arsyad wafat pada 6 syawal 1227 hijriah bertepatan dengan 3 oktober 1812 m dalam usia 105 tahun,semoga Allah SWT selalu merahmati beliau dan keturunan keturunan beliau hingga akhir jaman. amiiin ya robbal alamiinn...


Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah seorang ulama besar fiqih bermazhab Syafi'i dari Martapura, Kalimantan Selatan yang namanya dikenal luas di seantero nusantara pada akhir abad 18. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari lahir di Lok Gabang, Martapura 17 Maret 1710. Dia diyakini adalah keturunan Alawiyyin melalui jalur Sultan Abdurrasyid Mindanao, Filipina.

Sebagaimana anak-anak pada umumnya, Muhammad Arsyad bergaul dan bermain dengan teman-temannya.

Namun pada diri Muhammad Arsyad sudah terlihat kecerdasannya melebihi dari teman-temannya.

Begitu pula akhlak budi pekertinya yang halus dan sangat menyukai keindahan. Di antara kepandaiannya adalah seni melukis dan seni tulis. Sehingga siapa saja yang melihat hasil lukisannya akan kagum dan terpukau.


Pada saat Sultan Tahlilullah sedang bekunjung ke kampung Lok Gabang, sultan melihat hasil lukisan Muhammad Arsyad yang masih berumur 7 tahun.


Terkesan akan kejadian itu, maka Sultan meminta pada orang tuanya agar anak tersebut sebaiknya tinggal di istana untuk belajar bersama dengan anak-anak dan cucu Sultan.

Di istana, Muhammad Arsyad tumbuh menjadi anak yang berakhlak mulia, ramah, penurut, dan hormat kepada yang lebih tua. Seluruh penghuni istana menyayanginya dengan kasih sayang.

Sultan sangat memperhatikan pendidikan Muhammad Arsyad, karena sultan mengharapkan Muhammad Arsyad kelak menjadi pemimpin yang alim.

Dia mendapat pendidikan penuh di Istana sehingga usia mencapai 30 tahun. Kemudian dinikahkan dengan seorang perempuan bernama Tuan Bajut.


Ketika istrinya mengandung anak yang pertama, Muhammad Arsyad berkeinginan untuk menuntut ilmu di tanah suci Mekkah. Maka, setelah mendapat restu dari sultan berangkatlah Muhammad Arsyad ke Tanah Suci mewujudkan cita-citanya.

Di Tanah Suci, Muhammad Arsyad mengaji kepada masyaikh terkemuka pada masa itu. Di antara guru dia adalah Syekh Athaillah bin Ahmad al-Mishry, al-Faqih Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi dan al-Arif Billah Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Hasani al-Madani.

Selain itu guru-guru Muhammad Arsyad yang lain seperti Syekh Ahmad bin Abdul Mun'im ad Damanhuri, Syekh Muhammad Murtadha bin Muhammad az

Zabidi, Syekh Hasan bin Ahmad al Yamani, Syekh Salm bin Abdullah al Basri, Syekh Shiddiq bin Umar Khan, Syekh Abdullah bin Hijazi asy Syarqawy, Syekh Abdurrahman bin Abdul Aziz al Maghrabi, Syekh Abdurrahamn bin Sulaiman al Ahdal, Syekh Abdurrahman bin Abdul Mubin al Fathani, Syekh Abdul Gani bin Muhammad Hilal, Syekh Abis as Sandi, Syekh Abdul Wahab at Thantawy, Syekh Abdullah Mirghani, Syekh Muhammad bin

Ahmad al Jauhari, dan Syekh Muhammad Zain bin Faqih Jalaludin Aceh.


Selama menuntut ilmu, Syekh Muhammad Arsyad menjalin persahabatan dengan sesama penuntut ilmu seperti Syekh Abdussamad al-Falimbani, Syekh Abdurrahman Misri al-Jawi, dan Syekh Abdul Wahab Bugis sehingga mereka dikenal sebagai Empat Serangkai dari Tanah Jawi.

Lalu pulanglah Syekh Muhammad Arsyad ke kampung halamannya, Akan tetapi, Sultan Tahlilullah, seorang yang telah banyak membantunya telah wafat dan digantikan kemudian oleh Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah I, yaitu cucu Sultan Tahlilullah.


Sultan Tahmidullah yang pada ketika itu memerintah Kesultanan Banjar, sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan serta kemajuan agama Islam di kerajaannya.

Sultan Tahmidullah II mengangkatnya sebagai mufti, bahkan sultan pun termasuk salah seorang muridnya.

Syekh Muhammad Arsyad adalah pelopor pengajaran hukum Islam di Kalimantan Selatan.

Ulama-ulama yang dikemudian hari menduduki tempat-tempat penting di seluruh Kerajaan Banjar, banyak yang merupakan didikan dari suraunya di Desa Dalam Pagar.


Salah satu cerita mengenai karomah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang dikenal dengan nama Tuanta Salamaka atau Datuk Kalampayan ini terjadi saat dia berangkat ke Batavia untuk membetulkan arah kiblat.

Arsyad membetulkan arah kiblat di Masjid Jembatan Lima, Masjid Luar Batang dan Pekojan, hal ini menimbulkan kontroversi di kalangan pemuka mesyarakat dan pemimpin muslim saat itu.


Karenanya Gubernur Jenderal Belanda kala itu memanggil Arsyad, sekaligus untuk mempermalukannya di depan umum dengan salah satu pertanyaannya apakah isi kelapa yang sedang dipegang sang gubernur.

Syekh Arsyad menjawab isi kelapa itu air dan di dalam air itu ada ikan, lalu hadirin tertawa mendengar jawaban yang tidak masuk akal itu.

Akan tetapi, setelah kelapa itu dibelah, memancarlah air dan keluarlah ikan yang masih hidup dari dalamnya, hadirin yang tertawa berubah menjadi takjub dan kagum melihat karomah yang dimiliki Syekh Arsyad.


AMALAN DOA SYEH MUHAMMAD ARSYAD AL BANJARI


Lakukan selama 3 malam berturut-turut:

1. Shalat hajat 2 raka’at

2. Baca syahadat 7x

3. Baca shalawat 7x

4. Baca istighfar 101x

5. Tawasul kpd:

– Nabi Muhammad SAW Al fatihah 7x

– Syekh Abdul Qodir Al Jailani Al fatihah 7x

– Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari Al fatihah 7x

– Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al fatihah 7x

– Datu Darjad Al fatihah 7x

6. Baca Ayat Kursy 101x

7. Lalu sujud sambil berdo’a dengan khusyu’ dan penuh penghayatan: “YA ALLAH YA RABBI DG IZIN DAN RIDHO-MU, DENGAN QUDRAT DAN IRADAT-MU,

DG BERKAT MUKJIZAT NABI-MU MUHAMMAD SAW, DG BERKAT KAROMAH PARA WALI-WALI-MU, DG BERKAT KAROMAH SYEKH ABDUL QODIR AL JAILANI, DG BERKAT

KAROMAH SYEKH MUHAMMAD ARSYAD AL BANJARI, DG BERKAT KAROMAH SYEKH MUHAMMAD ZAINI BIN ABDUL GHANI, DG BERKAT KAROMAH DATU DARJAD, HAMBA

MOHON KEMBALIKANLAH ( SEBUT NAMA BARANG YG HILANG / NAMA PASANGAN ) KEPADA HAMBA DG SEGERA,BI ALFI ALFI LA HAWLA WALAA QUWWATA ILLA

BILLAHIL ‘ALIYYIL ‘ADHZIIM, AMIN”


ILMU PAGAR GAIB WARISAN SYEKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI


Baiklah,izinkan juga ana mengizajahkan ilmu pagar gaib agar terhindar dari serangan nyata maupun serangan halus dan musibah bencana lainnya,yang mana ilmu ini juga masih warisan Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari…

Kaf 40 jantan:


اللهُ رَبِّى كَفَاكَ رَبُّكَ كَمْ يَكْفِيكَ وَاكِفَةً


كِفْكَافُهَا كَكَامِنٍ كَانَ مُنْكَلِكٍ كُكَرُّالْكَرَّ


كَكَرِّالكَرِّفِى كَيَدٍتَحْكِي مُشَكْشَكَةً


كَلُّ كِلُّكِ كَفَاكَ مَالِ كَافِى الكَافِى كُرْ


بَتُهُمْ يَاكَوْكَبًاكَانَ يَحْكِيْ


كَوْكَبَ الفَلَكِ …كهيعص……


لااله الاالله سيدنامحمدرسول الله


صلى الله عليه وسلم


ALLAHU ROBBI KAFAAKA ROBBUKA KAM YAK FIIKA WAA KIFATAN

KIF KAA FUHAA KA KAA MININ KAA NA MUN KALIKIN KUKAR RULKARRA

KAKARRIL KARRI FII KAYADIN TAH KII MUSYAK SYAKATAN

KAL LU KIL LUKI KAFAAKA MAA LII KAFIL KAAFI KUR

BATUHUM YAA KAU KABAN KANA YAH KII

KAU KAA BAL FALAKI …….KAAF HAA YAA ”AIN SHOOD

LAA ILAA HA IL LALLAH SAYYIDUNAA MUHAMMADAR ROSULLULLAH


Diamalkan selama 7 malam dan kaf 40 jantan diwiridkan 700x bakda sembahyang isya..Setelahnya bisa digunakan bila ada perlu saja,dengan cukup dibaca 3x.Kalau ana biasanya dibaca 3x setiap mau keluar rumah dan 3x mau tidur,dibaca 3x ketika mau naik kapal terbang/kapal laut,menurut datu datu banjar seandainya kapal itu pecah dilautan niscaya selamatlah orang yang membaca kaf 40 tadi.

Kaf 40 ini sangat terkenal didunia tasauf karena biasanya para sufi bila hendak riyadhah serta kholwat digunung/dihutan/digua mereka akan membacanya 70x sebagai pendinding dari gangguan hewan,jin,setan,dan iblis.