BERBAGAI KARAMAH ABAH GURU SEKUMPUL
(Syaikh Muhammad Zaini Ghani)
PERINGATAN HAULNYA DI HADIRI JUTAAN JAMAAH
Tanpa bermaksud mengecilkan Peringatan Haul para Habaib, para Ulama dan Kiai lainnya di berbagai tempat, belum sepuluh tahun kewafatannya, Haul Al- Allamah Syaikh Muhammad Zaini Ghani atau Gru Sekumpul telah di hadiri jutaan jamaah. Ini sangat berbeda dengan peringatan haul di beberapa tempat, yang semula jamaah yang hadir sedikit, kemudian semakin tahun semakin bertambah hingga ribuan orang. Tetapi peringatan Haul di Sekumpul, sejak tahun pertama sudah di ikuti ratusan ribu jamaah. Dengan kenyataan ini, menunjukkan bahwa peringatan Haul di Sekumpul Martapura adalah " aruh ganal nang paling ganal " atau peringatan Haul yang paling besar yang pernah kita temui. Dan menariknya jamaah maupun toko yang datang itupun tanpa undangan. Artinya kedatangan mereka murni keinginan mereka, karena mereka merasa memiliki terhadap figur yang amat mereka cintai dan kagumi ini.
Dari realita di lapangan, para jamaah peringatan Haul Sekumpul itu memang datang dari berbagai tempat, baik Kalimantan Selatan, Tengah, Timur, Barat, Jawa dan Sumatera. Bahkan ada yang datang dari negara tetangga Malaysia, Brunei dan Singapura. Melihat realita tersebut pihak panitia Haul Sekumpul, pada peringatan Haul ke-10 tahun 1436 H tadi menyiapkan hamir setengah juta nasi kotak. Itu belum termasuk sumbangsih masyarakat sekitar Sekumpl yang dengan sukarela menyiapkan ratusan bahkan ribuan nasi kotak pada setiap rumah mereka.
Akses jalan dan transportasi pun diatr oleh panitia Haul dengan cukup cermat, mengingat kemacetan yang cukup parah pada beberapa kali Haul sebelumnya, hingga puluhan kilometer. Pada beberapa tahun terakhir, telah diatur bagi jamaah yang datang dari luar daerah diminta untuk sudah berada dilokasi beberapa hari sebelum hari H, atau minimal sehari sebelumnya. Dengan demikian pada hari H, transportasi lebih mudah di kendalikan, untuk mengantisipasi kemungkinan kemacetan. Demikan pula pantaua dari sisi akomodasi, hotel, penginappan dan sejenisnya yang ada di Martapura dan sekitarnya sudah penuh di pesan jauh-jauh hari beberapa bulan sebelum hari puncak haul.
Meski acara di peringatan Haul Sekumpul sebenarnya sangat sederhana, dimulai dengan shalat Maghrib berjamaah, kemudian Wirid, pengajian ayat Suci Al-Qur'an, Maulid, pembacaan Yasin, Tahlil dan do'a. Namun demikian, acara ini terasa sangat khidmat dan khusyu. Inilah keberkahan yang nampak dari kemuliaan seorang Wali Besar Maulana Syaikh Muhammad Zaini Abdul Ghani .
ULAMA yang satu ini sangat kharismatik dan dikagumi banyak orang. Ia adalah sosok Waliyullah asal Kalimantan yang menyatukan syari’at, tarekat dan hakikat dalam dirinya.
Meski memiliki karomah, ia selalu berpesan agar jangan tertipu dengan segala keanehan dan keunikan. Ketawadhuan dan kesederhanaannya telah membuatnya mencapai maqom yang tinggi.
Ia dikenal dengan julukan Abah Guru Sekumpul. Nama aslinya Muhammad Zaini Abdul Ghani atau Guru Ijai. Lahir 11 Februari 1942 (27 Muharram 1361 H) di Kampung Tunggul Irang Seberang, Martapura, Kalimantan Selatan. Ia wafat dalam usia 63 tahun di Martapura pada 10 Agustus 2005.
Beberapa nama atau julukan Muhammad Zaini yang populer di masyarakat adalah Qusyairi (nama kecil), Guru Sekumpul (sebutan yang paling populer), Guru Ijai (Guru Izai), Guru Ijai Sekumpul, Tuan Guru, Abah Guru, Kiyai Haji.
Masa kecil Guru Sekumpul memiliki keistimewaan yakni tak pernah mengalami “mimpi basah” (ihtilam).
Sejak kecil dididik orangtuanya Haji Abdul Ghani dan Hajjah Masliah binti Haji Mulya dan neneknya bernama Salbiyah. Mereka menanamkan akhlak, kedisiplinan dan pendidikan tauhid serta belajar membaca Al-Qur'an.
Pada usia tujuh tahun ia menimba ilmu di madrasah di Kampung Keraton, Martapura. Sejak usia 10 tahun telah dikaruniai kassyaf hissi, yakni mampu melihat dan mendengar apa-apa yang tersembunyi atau hal-hal ghaib. Pada usia 14 tahun ia dikaruniai futuh (pencerahan spiritual) saat membaca sebuah tafsir Qur’an.
Pada masa remajanya, Guru Sekumpul menghabiskan waktu menimba ilmu hingga ke Pesantren Datu Kalampian Bangil, Jawa Timur. Selain itu berguru kepada Syekh Falah di Bogor.
Karomah Abah Guru Sekumpul, Ulama Besar dari Kalimantan
Ia juga mendalami syariat dan tarekat kepada Syekh Muhammad Yasin Padang di Mekah, Syekh Hasan Masysyath, Syekh Isma’il Yamani, Syekh Abdul Qadir al-Baar, Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutby, Allamah Ali Junaidi (Berau) ibn Jamaluddin ibn Muhammad Arsyad.
Atas petunjuk Syekh Ali Junaidi, beliau kemudian belajar kepada Syekh Fadhil Muhammad (Guru Gadung). Kepada Guru Gadung ini Guru Ijai belajar tentang ajaran Nur Muhammad. Beliau juga mendapat ijazah Maulid Simthud Durar dari sahabat karibnya, Habib Anis ibn Alwi ibn Ali al-Habsyi dari Solo, Jawa Tengah.
Ia sempat mengajar di Pesantren Darussalam Martapura selama lima tahun. Kemudian membuka pengajian di rumahnya sendiri pada 1970-an, didampingi kyai terkenal yakni Guru Salman Bujang (Guru Salman Mulya). Pada 1988 pindah ke Kampung Sekumpul, membuka kompleks perumahan ar-Raudhah atau Dalam Regol.
Sejak itulah kewibawaan dan kharismanya memancar luas dan banyak tamu berdatangan, bahkan dari Malaysia, Singapura dan Brunei. Sebagian datang untuk berguru, sebagian mencari berkahnya, dan sebagian ingin berbaiat Tarekat Samaniyyah. Beberapa tokoh nasional juga pernah mengunjungi Guru Sekumpul di antaranya Amien Rais, Gus Dur, KH AA Gym dan tokoh lainnya.
Sejak kecil, Guru Sekumpul sudah memperlihatkan sifat mulia. Penyabar, ridha, pemurah, dan kasih sayang terhadap siapa saja. Kasih sayang yang ditanamkan ayahnya telah membuatnya berhati lembut, penyayang dan pemurah kepada semua orang.
Sebagai ulama, Abah Guru Sekumpul dikenal sebagai orang yang lembut, kasih sayang, sabar, dermawan dan tekun. Apapun yang terjadi terhadap dirinya, beliau tak pernah mengeluh. Bahkan pernah beliau dipukuli oleh orang-orang yang dengki kepadanya, namun beliau tidak mengeluh atau menaruh dendam sama sekali.
Beliau juga mengajarkan agar orang senantiasa mencintai dan hormat kepada ulama yang baik dan saleh. Tak heran apabila saat pengajian, tidak kurang dari 3.000 orang datang ke pengajiannya dan selalu diberi jamuan makan. Kedermawanan Guru Sekumpul ini tampak bukan hanya kepada lingkungan sekitar, tetapi juga ke setiap tempat yang disinggahinya.
Tentara Jepang Tidak Melihat Adanya Mobil
Sekitar dua minggu setelah kelahiran putra pertama, sang bayi mungil yang diberi nama Ahmad Qusyairi, Abdul Ghani berkeinginan memboyong kembali keluarganya dari desa Tunggul Irang Seberang ke kampung asalnya yaitu Keraton. Keraton yang telah ditinggalkan berbulan-bulan, menyiratkan kerinduan Abdul Ghani terhadap kampung kelahirannya ini. Kampung yang sesungguhnya sangat damai dan tenang, namun kedatangan tentara kolonial Dai Nippon atau tentara Jepanglah yang membuat Abdul Ghani sekeluarga harus meninggalkan Keraton dan mengungsi dirumah Abdullah, famili istrinya Masliyah.
Malam itu terasa amat mencekam, informasi yang Sampai ketelinga keluarga Abdul Ghani menyatakan bahwa di kota Martapura malam itu tentara Jepang menjaga ketat seluruh ruas jalan. Lebih dari itu mereka juga memberlakukan jam malam, dan mengultimatum warga agar jangan keluar rumah dan berjalan di malam hari. Siapapun yang mencoba untuk berjalan dijalan umum akan di tembak ditempat, kata ultimatum itu lebih lanjut.
Namun tekad dan niat yang bulat dari Abdul Ghani, seakan membuyarkan semua itu. Apalagi untuk menuju Kampung keraton, ia sekeluarga menggunakan mobil butut atau mobil jamban milik seseorang, yang dikemudikan oleh Habib Hasan, seorang Sayyid yang masih tinggal di desa Tunggul Irang itu. Meski masih diliputi rasa khawatir dan was was, namun diiringi sebuah do’a dan permohonan kepada Allah SWT, Abdul Ghani sekeluarga meninggalkan kampung Tunggul Irang.
Sampai di kota Martapura, nampak barikade dan penjagaan tentara Jepang, memang terlihat sangat kuat. Disana sini nampak dijaga ketat. Tentara bermata sipit itu kelihatan sangat siaga memantau keadaan, sehingga segala akses jalan seakan tidak bisa ditembus. Dijalan tidak seorang pun penduduk Martapura yang berani melanggar ultimatum tentara Dai Nippon. Karena siapapun tahu, bahwa tentara Jepang tidak main-main.
Sementara itu, mobil yang ditumpangi keluarga Abdul Ghani pun terus meluncur, tanpa memperdulikan penjagaan ketat itu. Semua memasang wajah tegang dan ada rasa khawatir, jika sampai mobil ini distop mereka. Namun keajaiban terjadi, barisan tentara Jepang itu sama sekali tidak perduli dengan mobil yang lewat, bahkan seakan akan tidak melihat ada mobil yang lewat. Brikade tentara bermata sipit itupun bisa dilewati tanpa insiden. Dan Abdul Ghani pun bisa bernafas lega hingga sampai ketempat tinggalnya di Kampung Keraton.
Di Didik Secara Rohani Oleh Para Ulama Besar
Sebagai anak yang dididik dengan didikan agama yang ketat, akhlak yang mulia, hati yang begitu bersih, jiwa yang penuh dengan Tauhid dan Ma’rifat kepada Allah, maka tidak aneh jika Zaini Muda disayangi bukan saja oleh orang tua dan keluarganya, guru gurunya, bahkan juga para Aulia baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Diusia beliau yang sangat muda beberapa ulama besar yang sudah diakui sebagai Waliyullah datang untuk mendidik Zaini muda secara rohani seperti Syekh Ali Junaidi Berau bin Qadhi H. Muhammad Amin bin Mufti H. Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Syekh Ali Junaidi Berau ini adalah guru pertama bagi Zaini muda secara rohani.
Banyak petunjuk petunjuk Syekh Ali Junaidi yang membawa Zaini muda menjadi ulama besar diantaranya memerintahkan agar Zaini muda mengamalkan zikir sebanyak 24 ribu kali sehari, beliau juga memberikan petunjuk agar mengaji masalah Nur Muhammad kepada Syekh Muhammad bin Syekh Salman Al Farisi Gadung Rantau, dan beberapa hal lain, Zaini muda seringkali mendapat petunjuk beliau. Selain Syekh Junaidi Berau, Zaini muda juga dididik secara rohani oleh Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad Afif (Datu Landak), dan beberapa Aulia hingga Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Menumpang Safinatul Auliya
Di suatu malam Jum'at yang penuh berkah Guru Zaini sewaktu mudanya melihat dalam mimpinya yang luar biasa sebuah kapal besar yang bertuliskan ”Safinatul Auliya” yang berarti Bahtera Para Auliya. Beliau lalu mendekati kapal itu dan berusaha untuk masuk kedalamnya. Namun ternyata penjaga kapal itu melarang beliau untuk masuk kekapal, setelah itu beliau terbangun. Di malam Jum’at selanjutnya, Guru Zaini juga bermimpi persis seperti mimpinya yang pertama itu. Dan dimalam Jum’at selanjutnya lagi beliau bermimpi seperti mimpi beliau sebelumnya, namun kali ini beliau diizinkan untuk masuk ke kapal "Safinatul Aulia” tersebut.
Di dalam kapal itu ternyata beliau telah disambut oleh seseorang yang dikemudian hari menjadi salah satu Murabbi Mursyidnya. Ketika Guru Zaini melihat suasana dikapal, ternyata masih banyak kursi yang kosong. Dan mereka yang ada dikapal itu sebagian adalah orang yang sudah dikenal dan sebagian lagi tidak di kenal.
Bioskop Yang Listriknya Padam, Besoknya Runtuh
Suatu sore Zaini muda duduk sendirian, tiba-tiba datang temannya yang masih familinya itu. Temannya itu mengajak untuk jalan-jalan ke pasar. Zaini tidak keberatan, asal tidak terlalu lama. Akhirnya mereka berdua berjalan menyusuri sepanjang pasar. Dan tanpa sadar mereka sudah berada didepan sebuah bioskop. Temannya itu mencoba mengajak Zaini untuk masuk kedalam bioskop. Dengan berbagai alasan, Zaini menolak halus ajakan itu. Namun sang teman tetap memaksa masuk, sambil menarik tangan Zaini. Dengan hati berat Zaini menuruti keinginan temannya itu. Akhirnya, apa yang terjadi? Tanpa diduga sebelumnya, seketika seluruh aliran listrik dibioskop itu mati total, dan pemutaran film pun berhenti. Bukan sekedar itu, keesokan harinya terbetik sebuah kabar bahwa bioskop itu runtuh. Sebuah tempat yang dimasuki oleh kekasih Allah, akan berubah menjadi baik dan hilang kebatilan dari tempat itu.
Peringatan Haulnya Dihadiri Jutaan Jamaah
Tanpa bermaksud mengecilkan Peringatan Haul para Habaib, para Ulama dan Kiai lainnya diberbagai tempat, belum sepuluh tahun kewafatannya, Haul Al Allamah Syekh Muhammad Zaini Ghani atau Guru Sekumpul telah dihadiri jutaan jamaah. Ini sangat berbeda dengan peringatan haul dibeberapa tempat,yang semula jamaah yang hadir sedikit, kemudian semakin tahun semakin bertambah hingga ribuan orang. Tetapi peringatan Haul di Sekumpul, sejak tahun pertama sudah diikuti ratusan ribu jamaah. Dengan kenyataan ini, menunjukkan bahwa peringatan Haul di Sekumpul Martapura adalah ”aruh ganal nang paling ganal” atau peringatan Haul yang ' paling besar yang pernah kita temui. Dan menariknya jamaah maupun tokoh yang datang itupun tanpa undangan. Artinya kedatangan mereka murni keinginan mereka, karena mereka merasa memiliki terhadap figur yang amat mereka cintai dan kagumi.
Dari realita dilapangan, para jamaah peringatan Haul Sekumpul ini memang datang dari berbagai tempat, baik Kalimantan Selatan, Tengah, Timur, dan Barat,Jawa dan Sumatera. Bahkan ada yang datang dari negara tetangga Malaysia, Brunei dan Singapura. Melihat realita tersebut pihak panitia Haul Sekumpul, pada peringatan Haul Ke 10 tahun 1436 H tadi menyiapkan hampir setengah juta nasi kotak. ltu belum termasuk sumbangsih masyarakat sekitar Sekumpul yang dengan sukarela menyiapkan ratusan bahkan ribuan nasi kotak pada setiap rumah mereka.
Akses jalan dan transportasipun diatur oleh panitia Haul dengan cukup cermat, mengingat kemacetan yang cukup parah pada beberapa kali haul sebelumnya, hingga puluhan kilometer. Pada beberapa tahun terakhir, telah diatur, bagi jamaah yang datang dari luar daerah diminta untuk sudah berada dilokasi beberapa hari sebelum hari H, atau minimal sehari sebelumnya. Dengan demikian pada hari H, transportasi lebih mudah dikendalikan, untuk mengantisipasi kemungkinan kemacetan. Demikian pula pantauan dari sisi akomodasi, hotel, penginapan dan sejenisnya yang ada di Martapura dan sekitarnya sudah penuh dipesan jauh-jauh hari beberapa bulan sebelum hari puncak haul.
Meski acara di peringatan Haul Sekumpul sebenarnya sangat sederhana, dimulai dengan shalat Maghrib berjamaah, kemudian Wirid, pengajian ayat suci Al Qur'an, Maulid, pembacaan Yasin, Tahlil dan do’a. Namun demikian, acara ini terasa sangat khidmat dan khusyu. Inilah keberkahan yang nampak dari kemuliaan seorang Wali Besar Maulana Syekh Muhammad Zaini Abdul Ghani.
Adapun sebagian dari karomah beliau yang diambil dari menakib risalah riwayat Al-Mukarram Al-A’llamah K.H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghoni Al-Banjari antara lain :
- Sejak kecil beliau gemar membaca Alqur’an dan sudah hapal Al-Qur'an dengan tafsirnya.
- Pada waktu Abah Guru Sekumpul berumur 14 tahun di buka kan hijab oleh Allah SWT, ketika membaca tafsir Al-Qur'an (Wa kanallah Sami’an Bashira.)
- Dan pernah terjadi dikampung melayu tengah, di mushalla setempat yang mana pada setiap tanggal 27 pada malam bulan ramadhan mengadakan Khatam Al-Qur’an dan itu sudah menjadi adat turun temurun.
Maka Al-Mukarram Abah Guru Sekumpul di undang oleh tuan guru H. Anang Sya’rani untuk membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Dikala beliau membacakan surah An-nur, maka banyaklah para hadirin yang kagum karena mendengar bacaan beliau, diantaranya ada yang menangis mengeluarkan air mata.
- Dan pada suatu hari pernah suatu ketika Abah Guru menembak burung dengan senapan, manakala sampai dipadang karang tengah mendengarlah beliau akan suara dzikir la ilaha illah. Maka beliau terus berjalan naik kekampung karang tengah untuk mencari asal suara dzikir itu,
Dan ternyata dzikir itu berasal dari maqam tuan Guru H. Abdullah Khotib.
Maka langsunglah beliau berziarah, setelah itu pada tiap tengah malam bulan terang lazimlah beliau untuk berziarah...
- Dan lagi dari perkataan Abah Guru Sekumpul bahwa beliau belajar mengenai Nur Muhammad kepada Al’-Allamah Muhammad Ali Zanid (berau).
- Kemudian lagi Beliau (Abah Guru Sekumpul) mendapat khususiyat dan anugerah dari Allah SWT berupa kasaf hissi (melihat dan mendengar apa-apa yang terdinding) serta diberi maqam Ijtima’ yaitu bertemu dengan Orang-orang Shaleh atau wali-wali Allah yang telah tiada secara langsung bertatap muka.
Karena para Aulia Allah itu tidak meninggal dunia, mereka hanya berpidah Alam saja kealam kumpulan Para Wali. - Wallahu A’lam...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar